Lamongan (beritajatim.com) – Setelah pandemi, pemerintah baik dari pusat, provinsi, hingga daerah terus bersinergi untuk kembali membangkitkan perekonomian masyarakat.
Upaya itu salah satunya melalui proses panjang bertahun-tahun dengan menyisihkan sebagian dana desa dan disokong reward program Desa Berdaya Provinsi Jawa Timur. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Desa Plosowahyu, Kecamatan/Kabupaten Lamongan.
Diketahui, Desa Plosowahyu berhasil mewujudkan impiannya untuk membangun wisata edukasi peternakan kambing perah, dengan branding ‘KM. 48,8’. Nama KM. 48,8 sendiri diambil dari titik kilometer jarak Surabaya dengan Plosowahyu Farm.
Plosowahyu Farm yang bernama Wisata Edukasi KM. 48,8 sebagai peternakan penyedia kambing perah unggul ini pun kini telah resmi dibuka oleh Bupati Lamongan Yuhronur Efendi.
Menurut Bupati Yuhronur, Program Desa Berdaya Provinsi Jatim tersebut berseiring dengan Program Desa Berjaya yang dimiliki Lamongan. Pihaknya yakin, keberhasilan tiap desa ini dapat terlaksana berkat usaha yang dilakukan oleh desa itu sendiri, ditambah dengan sinergitas antara pemerintah baik provinsi dan kabupaten.

“Selanjutnya terus dirawat wisata yang telah dimiliki, sehingga bisa menjadi kebangkitan ekonomi yang ini dimulai dari desa-desa. Alhamdulillah, Lamongan tumbuhnya lebih cepat dibanding rata-rata, yang dulu pada saat pandemi minus 2,65 persen lalu naik jadi 3,43 persen. Ini menandakan bahwa kita bisa pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat lagi,” katanya, Senin (5/12/2022).
Selain berpesan agar dapat terus mengembangkan wisata kambing perah tersebut, Bupati Yuhronur juga mendorong agar Desa Plosowahyu terus semangat menggali potensi yang dimiliki, menjadikan desanya lebih berdaya dan berjaya, dengan tujuan memberikan kesejahteraan pada warganya.
“Tetap semangat untuk menjadikan desa ini lebih berdaya, desa yang lebih berjaya, untuk kesejahteraan masyarakat di Desa Plosowahyu,” tandas Bupati yang akrab disapa Pak YES tersebut.

Sementara itu, Kepala Desa Plosowahyu Agus Susanto menyampaikan bahwa ada 7 jenis kambing perah unggulan yang dikembangkan di desanya. Jenis kambing tersebut yakni Kambing Saanen, Kambing Sapera, Kambing Nubian, Kambing Anglo Nubian, dan Kambing British Alpine.
Tak cukup itu, Agus menyebut, juga terdapat dua kambing etawa peranakan asli Indonesia yakni Kambing Kaligesing asli genetika dari Gunung Merapi, dan Kambing Senduro asli genetika dari Gunung Semeru.
“Berdirinya KM.48,8 telah mempekerjakan belasan warga masyarakat desa. Dengan demikian, pendapatan Bumdes juga dipastikan akan meningkat dengan berdirinya KM.48,8 ini. Sebelumnya pendapatan kandang desa ini hanya ratusan ribu setahun, maka mulai tahun depan minimal Rp9 juta per tahun,” ucapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”lamongan”]
“Jika ekspansi kandang ini terus dilakukan hingga 100 persen, maka bisa dua kali lipat dari pendapatan tersebut. Itu hanya dari sisi kandang, belum potensi lainnya yang bisa kita lakukan,” tambah Kades Agus.
Lebih lanjut terkait sistem kandang yang digunakan, ungkap Agus, merupakan kandang baterai, yakni berupa kandang kotak-kotak yang disusun berderet di atas lantai panggung, dengan setiap kotak diisi satu atau dua ekor kambing, bahkan berkelompok.
“Hingga saat ini jumlah kambing yang berada di kandang KM. 48,8 ini sebanyak 30 ekor kambing, dengan 10 kandang baterai masih kosong,” jelasnya. [riq/but]






