Surabaya (beritajatim.com) – Tepat pukul 01.45 WIB, Gatot (24), mahasiswa asal Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) sedang asyik-asyiknya menikmati secangkir kopi dan rokok yang dihisap sembari menunggu tim kesayangannya Spanyol berlaga dalam gelaran Piala Dunia melawan Jepang, Jumat (02/12/2022).
Ia ingat, saat komentator sedang membahas susunan pemain Spanyol, tiba-tiba sejumlah pemuda sekitar 50 orang dengan 20 sepeda motor datang ke warung tempat ia nongkrong dengan teriakan amarah, senjata tajam, ketapel, dan batu di tangan.
Gatot yang merasa ketakutan, bersama dengan 4 pengunjung lainnya langsung lari ke arah dalam warkop. Saat itu, yang ia pikirkan hanya selamat dari sabetan sajam dan lemparan batu anggota gangster tersebut.
“Pengunjung di warkop sudah mulai sepi. Hanya tinggal 5 orang. 1 orang penjaga warkop, sedangkan yang 4 orang pengunjung. Kita masuk ke dalam. Kamar mandi ukurannya tidak luas tapi cukup saat itu (menampung kami),” ujar Gatot saat ditemui di Polsek Sukolilo.
[berita-terkait number=”5″ tag=”gangster”]
Gatot bersama 4 teman lainnya harus menahan grendel kamar mandi selama kurang lebih 10 menit. Para pemuda yang sudah beringas menggedor-gedor pintu kamar mandi. Dari dalam, Gatot hanya bisa mendengar kalimat maki-makian, suara kaca pecah dan geberan gas sepeda motor dari luar. Sembari, ia berdoa agar tetap dijaga keselamatannya oleh yang kuasa.
“Saya sudah pasrah mas, sama istighfar, itu saya sama megangin Grendel pintu, pokoknya jangan sampai terbuka. Kalo terbuka ya habis sudah,” katanya dengan wajah tegang.
Dirasa mereda, kelima orang yang ada di kamar mandi memberanikan diri untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Saat keluar, ia kaget, gelas, etalase, tv dan sepeda motor yang terparkir sudah tidak teratur. Semua rusak. Mereka langsung teriak-teriak minta tolong. Gatot melihat gangster yang baru saja menyerangnya jalan ke arah Kampus Hang Tuah. Namun, baru jarak 100 meter dari Warkop, orang-orang yang menyerangnya itu berhenti.
Di titik itulah gangster kembali membuat kisruh. Ada salah seorang warga hampir dibacok menggunakan parang, setelah ketahuan merekam video dengan menggunakan handphone. Satu warga itu kemudian langsung lari masuk ke dalam rumahnya.
Masih menurut Gatot, warga kemudian bergotong royong melakukan pengepungan di Barat, anggota Polsek Sukolilo yang sudah datang melakukan penghadangan dari Timur. Sedangkan, warga dari arah barat. Sinergi masyarakat Keputih dan Polisi membuahkan hasil, 12 pemuda diamankan.
Kini, 12 anak usia belasan itu ditahan di Polsek Sukolilo. Mereka tidak ditahan di dalam sel. Mereka dibiarkan duduk di salah satu sudut ruangan tengah area Polsek Sukolilo, dengan kondisi tangan dikecrek.
Dari penglihatan awak media, tak ada raut muka menyesal. Bahkan, salah seorang dari mereka ada yang terlihat masih bisa cengengesan. Padahal orang tuanya sedang khawatir diluar Mapolsek Sukolilo. (ang/kun)






