Gresik (beritajatim.com)- Keringat bercucuran di wajah Edi Yunianto (58), sopir angkutan kota, atau angkot asal Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik, masih terlihat jelas. Bapak dua orang anak ini, bersama ratusan pengendara ojek online dan sopir angkot lainnya akan menerima bansos, dan subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Bagi Edi bantuan ini sangat bermanfaat di tengah kenaikan harga BBM. Ini juga membantu ketika sepinya penumpang ditengah persaingan teknologi aplikasi transportasi. “Saat ini penumpang sangat sepi, jadi saya dan teman-teman hanya bergantung pada penumpang bis pariwisata yang ingin berziarah ke Makam Sunan Giri,” ujarnya, Senin (28/11/2021).
Edi yang sudah bekerja sebagai sopir angkot sejak pertengahan tahun 90-an ini harus bertahan ditengah kondisi yang sudah banyak berubah.
[berita-terkait number=”5″ tag=”gresik”]
“Dulu rute angkot saya masih ramai, tetapi saat ini apalagi ditambah ada pandemi covid-19. Penghasilan merosot tajam. Sepinya penumpang, membuat rata-rata penghasilan perharinya menjadi tidak menentu. Saat ini rata-rata mendapat Rp 50 ribu rupiah perhari sudah bagus, itupun tidak menentu,” ungkapnya.
Untuk bertahan hidup, dirinya bersama rekan-rekannya merasa sangat terbantu dengan subsidi BBM yang diberikan oleh pemda melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Gresik.
Penyerahan bansos, dan subsidi BBM yang diserahkan Bupati Fandi Akhmad Yani untuk meringankan beban bagi pengemudi angkot serta ojek online. “Stimulus dan bantuan yang kita berikan ini untuk menjadi penyeimbang,” ujarnya.
Selain bansos kepada 511 orang ojek dengan besaran Rp 300 ribu rupiah per orang. Sopir angkot dan angkutan pedesaan (Angdes) mendapat bantuan voucher pembelian BBM senilai Rp 500 ribu rupiah yang diberikan kepada 314 unit angkot dan angdes.
Bantuan serupa juga diberikan untuk subsidi tiket penyeberangan kapal Gresik-Bawean. Dengan pagu sebanyak 26.668 orang. Nantinya setiap orang akan mendapat subsidi tiket sebanyak Rp 25 ribu rupiah dengan jangka waktu tiga bulan. [kun]






