Surabaya (beritajatim.com) – Banyak orang berpikir bahwa pernikahan merupakan akhir yang bahagia dari kehidupan. Padahal, menginjak jenjang pelaminan berarti kalian mengawali hal baru dalam hidup. Bagi sebagian orang mungkin mengira pernikahan hanya penuh dengan kesenangan, karena bisa menghabiskan waktu bersama orang yang kita sayangi 24/7. Nyatanya pernikahan juga memiliki pasang surut, dan tidak seterusnya berjalan dengan baik – baik saja.
Di tahun pertama biasanya pasangan akan mengalami masa sulit, itu adalah hal normal karena keduanya masih beradaptasi dari masa single menjadi istri atau suami orang. Dibutuhkan kerja sama antara kedua belah pihak untuk bisa terus mempertahankan bahtera rumah tangga, karena pada dasarnya pernikahan adalah sebuah pembelajaran seumur hidup.
Dalam rumah tangga, ada beberapa tahapan atau fase yang dilalui oleh pasutri setiap tahunnya. Mempelajari fase ini setidaknya akan memberi gambaran bagi kalian yang belum atau akan segera menikah, agar setidaknya bisa lebih mempersiapkan dan menyesuaikan diri untuk masalah – masalah rumah tangga di kemudian hari.
Berikut ini adalah beberapa tahapan dalam pernikahan yang perlu kalian ketahui.
1. Fase bulan madu
Berlangsung selama satu atau dua tahun pernikahan, fase ini menjadi momen yang romantis, indah, dan penuh kasih sayang dalam rumah tangga. Pasangan baru ini belum melihat adanya masalah dan semua masih terasa menyenangkan. Namun menjadi tahun yang krusial pula lantaran baik suami maupun istri berada pada masa adaptasi terhadap peran baru. Tidak jarang perbedaan pendapat atau prinsip bisa mengakibatkan pertengkaran hebat bahkan perceraian.
2. Fase penyesuaian
Rasa cinta yang tadinya membara kini sudah mulai menurun. Pasangan akan menyadari bahwa pernikahan memiliki tanggung jawab yang besar, tentang keuangan, mertua, mengurus rumah, dan anak. Karakter dan kebiasaan asli pasangan juga akan semakin berbeda, yang tentunya akan berbeda dengan ketika masih berpacaran. Dari sini kalian akan mengetahui bahwa tidak ada seseorang yang sempurna, dan kalian harus menerima hal tersebut.
3. Fase pertentangan
Memasuki tiga sampai lima tahun pernikahan, akan banyak konflik yang muncul, disertai dengan kekecewaan. Hal kecil pun bisa menimbulkan perdebatan, entah lantaran finansial, anak, kebutuhan rumah tangga, atau kebutuhan masing – masing yang terasa tidak terpenuhi. Masing – masing akan menyadari bahwa orang yang dicintai memiliki begitu banyak kekurangan, sehingga rasa cinta yang dahulu berkobar pun semakin padam. Tidak sedikit perselingkuhan terjadi dalam fase ini, saling menyalahkan satu sama lain, dan keinginan untuk berpisah.
4. Fase pendewasaan
Jika berhasil melewati masa – masa berat penuh pertentangan, kalian akan melewati masa pendewasaan, dan ini biasanya baru terjadu ketika memasuki 10 tahun pernikahan. Kalian lebih bisa memahami dan terbiasa dengan situasi, kebiasaan, dan karakter masing – masing. Komitmen di awal pernikahan akan kembali terbentuk, terutama dengan tanggung jawab kepada anak – anak. Kalian tentunya ingin menjadi contoh orang tua yang baik dan membina keluarga yang harmonis.
5. Fase tumbuh bersama
Ketika lelah berkelut dengan rasa bosan dan konflik, pasangan suami istri bisa menemukan kedamaian di usia dua hingga tiga dekade pernikahan. Kalian akan merasa bersyukur karena dapat bertahan menghadapi satu sama lain, membuat cinta lama seolah bersemi kembali.
6. Fase pertengahan usia
Ketika kalian dan pasangan memasuki usia 40 hingga 50 tahun, kalian akan merasakan perbedaan secara biologis dan emosional. Masing – masing mungkin akan mersakan adanya penurunan dari berbagai aspek kehidupan, menyadari bahwa kalian tak lagi muda hingga mengalami krisis paruh baya psikologis.
Beberapa hal yang juga akan kalian alami dalam fase ini misalnya kesehatan yang menurun, kehilangan orang tua, kehilangan pekerjaan, kesedihan saat anak – anak sudah mulai meninggalkan rumah, dan permasalahan lainnya. Disinilah peran pasangan untuk saling menguatkan dengan komitmen yang telah kalian bangun.
7. Fase menua bersama
Setelah beberapa dekade dan berhasil menghadapi pasang surutnya kehidupan bersama, pasangan akan menyadari bahwa pada akhirnya yang tersisa hanya kalian dengan suami atau istri kalian. Tahap ini menjadi tahap di mana cinta kembali bermekaran seolah seperti pengantin baru. Tidak ada lagi yang membuat kalian meragukan pernikahan ini karena suka duka telah dilalui bersama orang yang tepat.
Untuk menghadapi tahapan – tahapan di atas, dibutuhkan mental yang kuat. Itulah mengapa menikah jangan hanya dilakukan ketika kalian ingin, tetapi ketika kalian sudah siap, baik secara lahir, batin, dan materi. (mnd/ian)






