Bojonegoro (beritajatim.com) – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro mengimbau kepada para petani untuk memanfaatkan Program Petani Mandiri (PPM) untuk mengajukan bantuan bibit kedelai. Sebab, yang terjadi sekarang pengajuan bibit dari petani masih dominan bibit padi dan jagung.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro Helmy Elysabeth mengatakan, varietas kedelai sebenarnya bisa menjadi pilihan petani paska panen padi. Pemerintah pusat juga terus berupaya melakukan perluasan lahan kedelai di seluruh pelosok agar tidak bergantung kedelai impor.
“Terakhir kami panen bersama Direktur AKABI (Aneka Kacang dan Umbi) Ditjen Tanaman Pangan Kementan dan petani pada Agustus 2022 harganya juga tinggi, antara Rp11 ribu per kilogram,” ujarnya, Selasa (15/11/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-bojonegoro”]
Pemkab Bojonegoro sendiri, dalam rangka perluasan lahan kedelai masih terbantu anggaran belanja tambahan (ABT) dari APBN. DKPP belum pernah menganggarkan secara langsung pengadaan bantuan bibit kedelai. “Setiap tahun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dianggarkan perluasan lahan kedelai lokal,” terang Helmy.
Menurut Helmy, sebenarnya dalam Program Petani Mandiri (PPM) yang digagar DKPP sendiri di dalamnya sudah ada berupa bantuan benih dan pupuk. Tetapi, para petani sebagian besar hanya mengajukan bibit jagung dan padi. “Jadi sebetulnya benih itu kita bebaskan kepada petani. Benih apa yang mau dibeli. Tetapi sekarang lebih dominan masih padi dan jagung,” terangnya.
Sementara diketahui, harga kedelai lokal di Pasar Kota Bojonegoro saat ini berkisar antara Rp18 ribu per kilogram, sedangkan untuk kedelai impor senilai Rp15 ribu per kilogram. Harga tersebut sesuai dengan rilis yang dipublikasikan oleh Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Bojonegoro melalui laman website. [lus/kun]






