Jakarta (beritajatim.com) – Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teguh Dartanto, menilai pertumbuhan ekonomi nasional pada Kuartal III 2022 cukup menggembirakan. Meski dibayangi resesi global, ekonomi nasional mampu tumbuh impresif hingga 5,72 persen Year-on-Year (YoY).
“Kinerja ekonomi kita cukup menggembirakan walaupun ada bayang-bayang resesi global, penurunan komoditas, ancaman inflasi, dan kenaikan suku bunga,” ujar Teguh.
Namun begitu, Teguh mengingatkan kinerja impresif tersebut perlu diimbangi dengan pengendalian harga komoditas pangan agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat. Juga, Pemerintah perlu mencegah kelangkaan stok pangan yang dapat memicu peningkatan harga.
“Agar kinerja ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat kecil maka pemerintah harus terus waspada dan sungguh-sungguh mengendalikan inflasi atau harga di masyarakat terutama makanan, serta menjamin ketersedian barang di pasar,” kata dia.
Ekonomi INDEF, M Rizal Taufiqurrohman mengatakan, dengan kondisi ekonomi nasional yang positif, Indonesia cukup percaya diri di tengah gelombang tsunami inflasi globatl. Mengingat tidak sedikit negara yang menyerah menghadapi inflasi yang tinggi saat ini.
“Banyak pemimpin negara yang sudah give up. Kita mesti percaya diri dan optimis dengan potensi dan faktual kita, pertama dari sumber daya alam, Indonesia itu adalah anugerah harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat,” ucap dia.
Dalam proyeksi INDEF, pada kuartal IV pertumbuhan ekonomi nasional tidak bisa lebih tinggi lagi dan berada di 5,3 persen. Tetapi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan Pemerintah untuk menjaga perekonomian agar tetap tumbuh.
Langkah yang harus dilakukan seperti belanja modal dan barang yang produktif, penyesuaian secara moderat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), perlunya penguatan pasar domestik untuk berbagai produk yang memiliki daya saing di pasar global, dan juga penyaluran bansos dan perlinsos yang tepat sasaran.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pertumbuhan-ekonomi”]
Rizal juga menilai Indonesia masih bisa merasakan windfall profit dari sejumlah komoditas yang tengah booming. Syaratnya seluruh pengelolaan sumber daya alam yang melimpah, harus didorong ke industri hilir.
“Mengapa industri hilir, karena akan menyelamatkan dalam memberikan kontribusi nilai tambah,” tambah Rizal.
Misalnya, saat ini komoditas nikel tengah booming. Maka perlu didorong agar pengolahan nikel bisa dilakukan di dalam negeri sehingga end product yang diekspor.
“Indonesia memanfaatkan windfall profit, mencari sumber market lain yang menyerap devisa lebih baik lagi dengan komoditas yang semakin banyak, ya itu dengan pangan dan energi,” kata Rizal.
Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan, Indonesia kian resilien dalam hal ekonomi. Bhakan mampu menorehkan capaian pertumbuhan ekonomi yang impresif.
Ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi di Kuartal III mencapai 5,72 persen. Angka ini tentu cukup menggembirakan.
“Di tengah perekonomian dunia yang terkoneksi ke bawah, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencatatkan kinerja impresif selama tahun 2022 telah melebihi pertumbuhan sebelum pandemi atau 2019,” kata dia. [hen/beq]






