Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak menyebut jika literasi kepada masyarakat perlu dilakukan untuk meningkatkan sistem keuangan yang inklusif.
Menurutnya, mendorong literasi yang bisa membawa inklusi keuangan menjadi hal penting. Sebab, hal itu merupakan langkah bijak bersama pemerintah dan stakeholder untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Inilah langkah bijak bersama pemerintah dan stakeholders guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui sistem keuangan yang inklusif,” ujar Emil saat Seminar Nasional Keuangan Syariah Goes to Campus ‘Akses Keuangan Syariah bagi Perempuan, Pemuda dan UMKM di Jawa Timur’ di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya (9/10/2022).
Emil mengatakan, sistem keuangan yang inklusif kini telah didukung dengan kehadiran finance and technology (fintech). “Fintech saat ini penetrasinya luar biasa. Sehingga mempercepat inklusi keuangan,” katanya.
Khususnya di Jatim. Emil mengungkapkan, beragam langkah telah dilakukan untuk mendorong inklusifnya ekonomi syariah menyasar di segala sektor. “Secara global, Pemprov Jatim bekerjasama dengan Bank Indonesia dan OJK untuk membangun awareness dan literasi masyarakat terkait keuangan syariah,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”literasi”]
“Juga ada Bank Jatim yang memiliki akar kuat di seluruh pelosok Jawa Timur yang bisa membantu meningkatkan awareness masyarakat tentang keuangan syariah,” imbuhnya
Saat ini, lanjut dia, bukan arah bangsa yang berubah dari Pancasila menuju islam sentris. Melainkan saat ini, semua sektor keuangan sedang bersiap untuk menjadi industri halal dunia. “Karena saat ini populasi masyarakat Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat industri halal dunia,” jelasnya
Emil yang juga Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jatim ini mengatakan, di Jatim saat ini tengah dikembangkan sebuah start up fintech yang akan mengembangkan crowd funding berbasis syariah. Tujuannya, untuk membiayai UMKM dengan basis crowd funding.
“Harapannya ke depan Jatim tidak hanya menjadi penonton tetapi juga ikut ambil bagian pada industri fintech,” tuturnya.
Lebih lanjut disampaikan, harapan dengan adanya ekonomi inklusif ini yakni mampu meningkatkan efisiensi ekonomi, Mendukung stabilitas sistem keuangan, berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional yang berkelanjutan.
“Serta bisa mengurangi kesenjangan (inequality) dan rigiditas low income trap, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang pada akhirnya berujung pada penurunan tingkat kemiskinan. Saya berharap kita bersama-sama berusaha untuk meningkatkan inklusi keuangan di Jawa Timur,” pungkasnya
Sementara Ketua Badan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inkubasi (BP BRIN) Unair Muhammad Nafik Hadi Ryandono menyebut kehadiran ekonomi syariah harus melahirkan peluang kerja bagi para pemuda bangsa.
“Ini juga sesuai dengan syariah islam tentang tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Maka para lulusan ekonomi islam harus terjun pada bidang ekonomi dan jadi pengusaha,” katanya
Menurutnya, selain penting mendorong pemuda menjadi pengusaha, peran perempuan pada sektor ekonomi juga harus diberi penguatan. Sebab, rata-rata UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan atau ibu rumah tangga.
“Ini juga harus dilakukan. Karena, sektor UMKM menyumbang sebesar 57,81% bagi PDRB Jatim. Ini peluang yang harus dikembangkan bersama. Pemuda menjadi pengusaha, perempuan didukung geliat ekonominya dan UMKM serta ekonomi akan bangkit kedepannya dengan tidak meninggalkan prinsip ekonomi syariah,” pungkasnya. (ipl/kun)






