Surabaya (beritajatim.com) – Kutil kelamin sesuai dengan namanya yakni adanya benjolan kecil di kemaluan. Namun, bisa juga muncul di area lain, seperti mulut dan juga anus. Adapun penyebab seseorang alami penyakit kutil ini ialah karena Human Papiloma Virus (HPV).
Biasanya menular melalui hubungan seksual, entah dari kelamin dengan kelamin, kelamin dengan anus, atau kelamin dengan mulut. Sehingga tidak disarankan untuk melakukan hubungan seks berisiko tinggi.
Selain munculnya kutil di area kulit yang ada pada lengan, tungkai, telapak kaki, anus atau mulut, gejala lain yang kerap dialami ialah rasa nyeri, sensasi terbakar, hingga pendarahan saat seseorang melakukan hubungan seksual.
Pada dasarnya kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja. Tidak hanya para laki-laki, kaum perempuan pun juga dapat berpotensi alami penyakit tersebut. Bahkan perempuan yang alami gejala ini, biasanya lebih berpotensi lebih besar terkena kanker serviks.
Secara medis, penyakit kutil kelamin ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, bisa juga penderitanya menggunakan obat oles yang mengandung asam salisilat. Bisa juga dilakukan tindakan lain, seperti keyoterapi. Keyoterapi ini dilakukan dengan cara pembekuan kutil menggunakan nitrogen, dengan pembakaran kutil yang kemudian diangkat, atau penggunaan sinar laser.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kesehatan”]
Namun, untuk para perempuan yang alami gejala ini sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan pap smear. Agar dapat diketahui apakah ada perubahan pada sel-sel rahim. Mengingat pap smear sendiri merupakan suatu tes yang bertujuan untuk mendeteksi adanya kanker rahim atau kanker mulut rahim. Sehingga dapat terjadi gangguan pada kehamilan dan persalinan.
Adapun faktor risiko lain yang bisa terjadi pada para penderita kutil kelamin ialah terjadinya komplikasi. Misalnya timbul luka pada mulut dan saluran napas. Selain itu, jika kutil tumbuh di area dubur atau anus, juga bisa meningkatkan risiko kanker anus.
Sebagai pencegahan agar tidak sampai komplikasi, seseorang bisa melakukan vaksinasi. Terlebih bagi mereka yang aktif berhubungan seksual. Hal ini bisa dilakukan sejak usia 9-26 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan mereka yang berusia 27-45 tahunan untuk melakukan vaksinasi juga. (fyi/nap)






