Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, akan menggelar Festival Jember Nusantara tahun depan. Ini bagian dari kampanye menghidupkan kearifan dan tradisi lokal di Kabupaten Jember.
“Sebenarnya rencananya digelar sepuluh hari, mulai 11-20 November 2022. Namun karena masalah cuaca ekstrem, akhirnya kami tunda. Sekarang juga banyak event di alun-alun. Jadi tahun depan insya Allah sudah pasti, dan Pak Bupati sudah menyiapkan anggaran untuk itu,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Jember Fibri Yanto, ditulis Kamis (3/11/2022).
Festival Jember Nusantara ini akan dipusatkan di alun-alun. “Selain gebyar UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), nanti di dalamnya ada acara atraksi kesenian, industri pariwisata, industri kreatif. Nanti akan ditampilkan tiga periodisasi, yakni zaman klasik, zaman masa Hindu dan Budha; zaman kolonial; dan zaman setelah kemerdekaan,” kata Fibri.
Menurut Fibri, bupati tertarik dengan konsep tersebut. “Tapi harus disiapkan dengan matang. Jember Nusantara ini bisa memayungi event yang ada. Event ini bukan milik Dinas Pariwisata tapi milik Pemerintah Kabupaten Jember,” katanya.
“Selama kegiatan ini berjalan, Jalan Dewi Sartika hingga alun-alun, tidak untuk kendaraan bermotor. Ini kalau nanti jadi, (pegawai) kantor terdekat, terutama kantor pemerintah daerah, menggunakan becak, sepeda ontel, dokar,” kata Fibri.
Kendaraan bermotor milik pribadi akan diparkir di lokasi tertentu. ‘Kantong-kantong parkir sudah kami siapkan,” kata Fibri.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Jember”]
Tenda-tenda (tenant) pameran dan usaha mikro kecil menengah akan berada di atas trotoar sepanjang Jalan Dewi Sartika hingga memutari alun-alun. “Mungkin sebelum Agustus 2023 akan diselenggarakan,” kata Fibri.
Konsep Festival Jember Nusantara dan Pegon Watu Ulo ini sudah dikirimkan ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. “Kementerian tertarik dengan konsep ini. Mungkin kami disuruh menggenjot event-event seperti ini,” kata Fibri.
Acara ini dibiayai tak hanya dengan anggaran daerah, tapi berkolaborasi dengan swasta. “Kalau APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) saja tidak kuat,” kata Fibri.
Kepala Dinas Pariwisata Harry Agustriono menjelaskan, festival itu untuk mengobati rasa rindu terhadap Jember. “Di situ ada festival seni budaya Jember, kuliner, dan atraksi pegon, patrol. macam-macam. Ini menggugah kembali keingintahuan anak-anak muda kita, bahwa Jember punya kearifan lokal yang perlu disampaikan agar mereka bangga,” katanya. [wir/beq]






