Jember (beritajatim.com) – Buah delima ternyata bisa menjadi alternatif obat kanker rongga mulut. Karsinoma sel skuamosa rongga mulut merupakan kanker urutan keenam di dunia.
Karsinoma sel skuamosa merupakan kanker yang sering terjadi pada rongga mulut. Secara klinis terlihat sebagai plak keratosis, ulserasi, tepi lesi indurasi dan kemerahan. “Lebih dari 90 persen karsinoma rongga mulut berasal dari sel skuamosa dan menjadi masalah utama kesehatan di negara berkembang serta merupakan penyebab utama kematian,” kata Sri Hernawati, dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar kedokteran, di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (29/10/2022).
Menurut Hernawati, perkembangan kemajuan di bidang bedah, radiasi dan kemoterapi belum memberikan hasil yang signifikan. “Pasien karsinoma sel skuamosa rongga mulut yang berumur panjang kurang dari 50 persen. Indeks survival terus merosot dibandingkan dengan kemajuan diagnosis dan pengobatan kanker,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”unej”]
Hernawati menjelaskan, dari beberapa penelitian di Asia Tenggara diketahui, bahwa mukosa bukal merupakan daerah karsinoma sel skuamosa yang paling umum. “Penanganan penyakit kanker yang kurang optimal pada kasus karsinoma sel skuamosa rongga mulut yang telah metastasis luas didapatkan sekitar 30-65 persen penderita meninggal dunia dalam kurun waktu lima tahun. Pada pemeriksaan DNA karsinoma sel skuamosa rongga mulut menunjukkan hampir 90 persen dijumpai adanya mutasi gen p53,” katanya.
Buah delima menjadi alternatif obat, karena buah ini banyak mengandung senyawa polyphenol yang teridiri dari flavonoid (flavonols, flavanols dan anthocyanins), hydrolyzahle tannins (ellagitannins dan gallotaannins) dan condensed tannins (proantho cyanidins).
“Empat kandungan kimia dalam buah delima merah yaitu ellagic acid, caffeic acid, luteolin dan pinicid acid secara individual menunjukkan aktivitas anti kanker pada sel aknker prostat secara invitro. Apabila dikombinasikan, keempatnya menunjukkan aktifitas yang berlipat ganda,” kata Hernawati.
Fraksi polyphenol kaya flavonoid yang dimiliki delima telah terbukti memiliki aktivitas anti invasi, antieicasanoid. “Ia bersifat menstimulasi apoptosis pada sel kanker. Jus delima mampu menurunkan ekspresi protein COX-2 sebesar 70 persen bila diberikan dengan konsentrasi 50 persen,” kata Hernawati.
Hasil penelitian juga menunjukkan, ekstrak buah delima (PGL) memiliki kemampuan menurunkan ekspresi VEGF atau vascular endothelial growth factor. VEGF dijadikan sebagai indikator prediksi perkembangan sel kanker. VEGF merupakan stimuli utama untuk pertumbuhan kanker neovaskularisasi.
Dengan terhambatnya angiogenesis, pasokan nutrisi ke sel kanker akan terputus. “Dengan demkian sel kanker tidak akan berkembang dan mati,” kata Hernawati. [wir/kun]






