Malang (beritajatim.com) – Dampak bencana banjir membuat Pemerintah Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjjng Wetan, Kabupaten Malang mulai berbenah. Pemerintah Desa bersama warga mulai menata desa pasca diterjang banjir bandang, Sabtu (15/10/2022) lalu. Salah satunya, menyiapkan akses jalan alternatif bagi kendaraan roda empat.
Kepala Desa Sidoasri Andiek Ismanto mengatakan, sebagai dampak terbesar akibat banjir dan tanah longsor tersebut, membuat terputusnya jembatan yang merupakan akses perekonomian warga Sidoasri untuk menjual hasil bumi mereka menuju pasar tradisional di Kota dan Kabupaten Malang.
Kata Andiek, selain putusnya jembatan, sekitar 381 rumah warga terendam air akibat banjir bandang terbesar tahun ini. “Sebagian rumah penduduk bahkan nyaris terbawa arus sungai yang meluap sangat deras. Saat ini kami terus membantu bersih-bersih rumah warga yang terdampak banjir,” tegas Andiek, Selasa (25/10/2022).
Menurut Andiek, selain bergotong royong membersihkan lingkungan dan pemasangan bronjong penahan longsor, pihak Desa bersama seluruh masyarakat tengah membuat jalan alternatif, agar bisa dilewati kendaraan roda empat. “Pembuatan jalan alternatif ini kami lakukan sambil menunggu pembangunan jembatan. Sehingga akses perekonomian warga kembali lancar dan tidak terhambat,” tuturnya.
Andiek menerangkan, kondisi seperti saat ini, kerjasama antara BUMDes dengan para pedagang hasil bumi yang sudah terjalin lama waktu harus dihentikan sementara waktu. Hal itu karena para pedagang masih terpotong biaya untuk tenaga angkut, sehingga keuntungan mereka menipis. “Kerjasama itu akan kita tindak lanjuti setelah jembatan Sidoasri berfungsi normal,” sambung Andiek.
Untuk pembangunan jembatan selebar 25 meter itu kemungkinan akan menggunakan alokasi pendanaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pasalnya, beberapa waktu lalu Anggota DPRD Jawa Timur, Sri Utari Bisowarno, sudah melihat kondisi jembatan di Desa Sidoasri yang terdampak banjir.
[berita-terkait number=”3″ tag=”banjir-malang”]
“Kedatangan Bu Untari di Desa Sidoasri selain meninjau langsung lokasi terdampak banjir, dia juga sempat menghitung besarnya alokasi dana yang akan diperuntukkan membangun jembatan ini,” terang warga Desa berharap.
Terpisah, salah seorang pedagang pisang warga Desa Sidoasri bernama Yanto berharap jembatan segera dibangun. Akibat putusnya jembatan tersebut, sambung Yanto, membuat pendapatan pedagang turun drastis. Hal itu dikarenakan akses hilir mudik terhambat infrastruktur jalan yang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. “Sebelum jembatan itu putus, pengiriman pisang bisa mencapai 23 pikup dalam satu hari. Kini pengiriman pisang termasuk kelapa, dalam satu hari hanya sedikit,” beber Yanto.
Sehingga, keuntungan yang di dapat pedagang pisang dan kelapa sangat minim. Para pedagang harus mengeluarkan ongkos tambahan menggunakan sepeda motor hingga ke barat jembatan. “Kalau biasanya kami dapat keuntungan Rp 400 sampai Rp 500 ribu sekali kirim, kini tinggal Rp 100 ribu,” pungkas Yanto. [yog/suf]






