Jombang (beritajatim.com) – Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia Muhammad Zainul Majdi atau lebih dikenal Tuan Guru Bajang (TGB) melakukan safari ke pesantren di Jombang, Jawa Timur, Senin (24/10/2022). TGB mengunjungi pesantren Tebuireng.
Di pesantren yang didirikan pada 1899 itu, Ketua Harian DPP Partai Perindo ini didapuk sebagai pembicara dalam acara Seminar Nasional, Istighosah dan Do’a Bersama yang digelar Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA). TGB membahas secara panjang lebar tentang peran dan posisi santri di era revolusi industri 4.0 dan 5.0.
Seminar tersebut juga dihadiri Ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia KH Nurhannan dan Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz. Dalam seminar itu, salah satu peserta menanyakan tentang irisan santri dan gerakan politik. TGB kemudian menjelaskan bahwa politik harus dimaknai secara umum. “Jangan juga meletakkan politik melebihi yang lain,” kata TGB.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pesantren-tebuireng”]
Tuan Guru Bajang ( TGB) Muhammad Zainul Majdi berpesan agar politik tidak dimaknakan al imamah atau untuk kekuasaan. Politik harus dimaknakan sebagai kategori umum. Yakni mengatur kehidupan menjadi lebih baik. “Kalau politik dimaknai untuk kekuasaan, itu adalah bagian kecil dari aspek-aspek kehidupan. Tidak boleh kita menganggap bahwa politik itu segala-galanya,” ujarnya.
“Politik harus dalam makna mengatur dunia agar lebih dekat dengan kebaikan, dan menjauhkan keburukan, itu esensi yang pentung. Untuk hal-hal yang terkait dengan kepartaian, itu muamalah (untuk keummatan). Ruangnya luas. Mau pilih partai mana silakan saja. Jadi tidak boleh, harus (partai) ini. Yang penting di tempat tersebut prinsip sebagai santri bisa diaktualisasikan,” ujar TGB.
TGB Zainul Majdi juga menyebut santri memiliki peran yang sangat penting bagi Indonesia. Bahkan, kata dia, santri mempunyai niat baik untuk membangun Indonesia. Oleh sebab itu, TGB juga berpesan agarsantri selalu bisa beradaptasi. Karena zaman berubah dengan cepat sekali. Tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Saat ini sudah masuk dalam era revolusi 4.0 bahkan dalam waktu dekat memasuki era revolusi 5.0.

“Ada hal-hal yang sangat berguna bagi santri. Karena selama di pesantren mereka dididik karakter yang baik. Pesantren juga mengajarkan mereka kemampuan adapatasi tinggi. Nah, kemampuan adaptif ini sangat penting pada era revolusi industri seperti saat ini. Orang yang memiliki adaptasi tinggi itu mampu menyesuaikan dengan situasi yang berkembang, tanpa ada tekanan. Sehingga mereka tetap bisa memaksimalkan potensi diri,” pungkasnya.
Selain menjadi pembicara seminar, dalam kunjungannya ke pesantren Tebuireng, TGB juga ziarah ke makam pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari dan makam Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. TGB beserta rombongan melakukan doa bersama secara khusuk di makam tersebut. [suf]






