Malang (beritajatim.com) – Penyidik Polri telah melakukan rekonstruksi Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 133 orang di Lapangan Polda Jatim, Rabu (19/10/22) kemarin. Namun hasil rekonstruksi justru tidak sesuai yang diharapkan oleh para keluarga korban.
Dalam rekonstruksi itu tidak ada tembakan gas air mata ke tribun penonton. Padahal faktanya, termasuk rekaman beberapa video yang beredar, ada tembakan gas air mata ke arah tribun penonton.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tragedi-kanjuruhan”]
Menanggapi hal itu, Irjen Pol Armed Wijaya selaku Anggota TGIPF dan juga Deputi 5 Kemenkopolhukam mengatakan, memang ada perbedaan. Ini yang nantinya akan menjadi bahan untuk dikroscek kebenarannya oleh Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF).
“Saya melihat (proses rekonstruksi, red) berjalan lancar. Memang ada hal-hal agak beda pendapat. Antara proses rekonstruksi dengan temuan TGIPF,” ujar Irjen Armed Wijaya, Rabu (19/10/22) saat berkunjung ke rumah keluarga korban Tragedi Kanjuruhan di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

Menurut Armed, temuan TGIPF pada rekaman CCTV ada gas air mata yang ditembakkan ke tribun penonton. Tetapi rekonstruksi ternyata tidak ada.
“Ini akan kami kroscek kembali kebenarannya. Tetapi apapun hasilnya tidak akan mengurangi dugaan pasal yang diterapkan pada tersangka tentang kealpaan,” Armed mengakhiri. (yog/ted)






