Rakka punya dua problem dalam hidupnya: perundungan dan hantu. Hidup sebagai pelajar SMA di Jakarta tak pernah mudah. Ia selalu jadi sasaran perundungan. Orang melihatnya sosok aneh. Ganjil. Mungkin karena dia bisa melihat hantu.
Hantu-hantu itu senantiasa menampakkan diri dalam bentuk paling seram. Ada yang menatap dalam diam. Tentu saja lengkap dengan darah menetes. Ada yang sesekali merintih minta tolong. Rakka pun hapal. Para hantu ini mati penasaran. Biasanya korban pembunuhan. Mereka menampakkan diri di hadapan Rakka untuk memberitahu di mana jasad mereka berada.
Rakka akhirnya memilih pulang ke kampung halamannya di Bogor, tinggal bersama pamannya bernama Ajat. Bersekolah di sana, Rakka kembali bertemu dengan hantu remaja SMA cantik yang mengalami amnesia. Persahabatan makhluk dua alam ini yang menjadi kekuatan film Kalian Pantas Mati yang disutradarai Ginanti Rona dan diproduseri Robert Ronny bersama co produser asli Kabupaten Jember Wisnu Bakker.
Hantu cantik yang dibintangi Zee JKT48 menjadi kawan baik Rakka yang dibintangi Emir Mahira yang hidup bagai Sisifus. Sebagaimana di Jakarta, Rakka mengalami perulangan nasib sial: kembali menjadi sasaran perundungan. Kali ini oleh geng anak-anak kaya, salah satunya anak donatur terbesar sekolah.
Namun tidak seperti di Jakarta, apa yang dialami Rakka di Bogor lebih seram. Ada hantu perempuan bermasker yang menculik dan membunuh anggota-anggota geng perundung satu demi satu. Bahkan Rakka ikut diserang oleh hantu ini di perpustakaan sekolah. Tahulah dia, bahwa ini bukan urusan main-main. Ini soal serius.
Film Kalian Pantas Mati diadaptasi dari film Korea Mourning Grave. Tentu saja dalam film ini, sebagaimana layaknya film horor umumnya, ada adu sakti pertarungan antara manusia dan hantu. Kebaikan dan kejahatan. Namun film ini sebenarnya menekankan pesan bahwa perundungan di sekolah lebih menyeramkan daripada hantu-hantu dengan banyak wajah.
Hantu dalam banyak penampakannya memunculkan rasa takut. Kita lari. Menutup mata. Atau bahkan mendadak pingsan jika tiba-tiba di hadapan kita ada sosok dengan wajah kerowak, tak utuh. Namun hanya itu yang dilakukan para hantu.
Sementara perundungan atau bullying memunculkan dendam, trauma, sakit hati, dan depresi bagi para korbannya. Sosok penjaga sekolah yang murung melihat sang anak menjadi pendiam dan menutup diri setelah menjadi sasaran perundungan lebih mengenaskan daripada seribu hantu.
Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan pada 2022, ada 226 kasus kekerasan fisik, psikis termasuk perundungan terhadap anak-anak. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya yang mencatatkan 119 kasus perundungan. Hai-Online.com melansir ada lonjakan 30-60 kasus per tahun.
Perundungan sudah tidak bisa dikategorikan kenakalan anak biasa lagi. Seorang pelajar SMK di Kabupaten Jember, Jawa Timur, meninggal dunia setelah ditendang temannya di sekolah tahun ini. Ada pula santri yang meninggal setelah dirundung kakak angkatannya. Sementara itu, dua tahun sebelumnya, seorang siswi SMP di Ciracas, Jakarta Timur, mati setelah terjun dari lantai empat sekolahnya. Sebelum meninggal, ia juga menjadi korban perundungan di sekolah.
Angka ini kian membesar dan membutuhkan perhatian banyak pihak. Kultur perundungan tak hanya menyakiti korban, tapi juga merusak pelakunya. Mental para perundung terkorup dan memandang dunia dalam perspektif dominasi, bukan kesetaraan. Kebencian, bukan cinta.
Bagaimana mengatasi perundungan? Film ini tak menawarkan solusi tentu saja. Ginanti Rona dan Robert Ronny bukan pembuatan kebijakan. Namun setidaknya film ini menawarkan cermin bagi kita semua untuk melihat bahwa perundungan bukan lagi urusan remeh. ‘Kalian Pantas Mati’ mengingatkan bahwa tak ada yang pantas mati karena kekerasan di sekolah dan rumah. [wir]






