Mojokerto (beritajatim.com) – Pohon kelapa merupakan tanaman zero waste (bebas sampah), masyarakat bisa memanfaatkan semua bagian pohon, termasuk batok kelapa. Bahkan, batok kelapa ini mampu menghasilkan produk yang mempunyai nilai jual tinggi bahkan bisa menjangkau pasar ekspor.
Arang batok kelapa (charcoal briquette) merupakan salah satu bahan baku utama membuat ragam produk yang mempunyai nilai jual tinggi. Salah satunya briket dari arang batok kelapa. Kualitas arang kelapa dari Indonesia disukai pasar dalam negeri dan global, ini lantaran mempunyai kandungan kalori tinggi.
Yakni 6.900-7400 kilo kalori (kkal) yang bisa membuat proses pembakaran menjadi cepat. Harga briket arang batok kelapa kualitas bagus di pasar Timur Tengah, Amerika Serikat, Rusia, Eropa, Amerika Latin dan lainnya dibanderol sekitar US$ 1.300 per ton.
Adapun kriteria briket yang bagus adalah yang tidak mudah hancur, tidak berbau, tidak berasap dan abu biasanya berwarna putih. Salah satunya briket produksi dari Eka Meidayanti (40) warga Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini sudah ke ekspor ke negara-negara di Eropa dan Amerika.
Dengan modal awal Rp50 juta, usaha yang digeluti sejak tahun 2013 ini tidak selalu berjalan mulus. Bersama sang suami Mr Amjad Khan, ibu empat anak ini jatuh bangun hingga akhirnya sukses ekspor briket hingga ke Eropa dan Amerika memiliki merk sendiri, Silverco.

Masih kata Eka, ia pun mencoba namun gagal lantaran batok kelapa yang ia bakar habis jadi abu. Batok kelapa ia datangkan dari Madura sebanyak tiga truk per hari. Bahan baku batok kelapa tersebut ia beli menggunakan modal Rp50 juta dari tabungan selama lima tahun.
“Saya kerja 5 tahun dapat Rp50 juta, dalam waktu satu minggu habis jadi abu karena tidak tahu ilmunya. Akhirnya belajar lagi kemudian dipinjam teman uang dan diberi support. Sama habis lagi, saya terus belajar, dari YouTube, dari teman-teman arang. Ternyata tidak boleh ngobos, kalau ngobos habis jadi abu,” ujarnya.
Ia kemudian membeli alat karena saat melakukan proses pembakaran yang menimbulkan asap, warga setempat melakukan aksi demo. Saat itu, usaha briket batok kelapa masih di Sidoarjo. Ia kemudian membeli alat dari Madura yang bisa meminimalisir asap yakni berupa drum dengan kapasitas 25 kg arang.
“100 kg batok kepala jadi 25 kg arang. Karena ingin menyuplai ke eksportir tidak mungkin kecil kapasitasnya, mereka kan butuh banyak. Alhamdulillah eksportir bisa menerima berapapun yang kita kirim. Support itu sungguh luar biasa, akhirnya dapat 1 pickup, 1 pickup dapat 1,5 ton. Dikirim,” tuturnya.

“Saya ketemu pabrik yang produksi briket di Gresik. Ternyata briket itu arang yang dipres, dicetak, akhirnya saya jadi suplayer pabrik itu. Dari satu truk menjadi satu kontainer, akhirnya saya berpikir untuk produksi briket karena permintaan luar negeri untuk briket arang sangat besar, pabrik ini juga tidak mencukupi kuotanya,” jelasnya.
Eka pun belajar membuat briket dari teman yang memiliki mesin. Karena tidak bisa menjalankan dengan kapasitas 1-2 ton per hari. Ia berani ambil dari eksportir dengan DP (Down Payment) 50 persen dan ditambah dengan modalnya, namun produksinya gagal gara-gara briket batok kelapa miliknya berwarna abu-abu.
“Produksi saya di rejeck. Akhirnya dikembalikan DP-nya dan saya belajar lagi. Karena ekspor harus benar-benar tertib, kalau tidak tertib komplainnya itu luar biasa tidak seperti jualan lokal. Saya ketemu pabrik besar tapi tidak bisa kerja karena manajemen SDM nya waktu itu kurang. Alhamdulillah saya gabung, dari pabrik yang nggak jalan akhirnya jalan,” ulasnya.
Dari pengalaman tersebut, ia kemudian membuka usahanya di Mojokerto. Dengan menyewa gedung milik Koperasi Unit Desa (KUD) Desa Gedeg, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Usaha yang ditekuninya terus berkembang hingga akhirnya terdampak Covid-19 pada 2020 lalu.
“Itu kita merosot lagi, bukan karena tidak ada order tapi shippingnya itu mahalnya tiga kali lipat. Dari Rp1.800 sampai ke Rp12.000 US dollar, setelah itu mulai permintaan turun karena Covid-19 di seluruh dunia termasuk customer-customer di Saudi saat itu mengalami hal yang sama. Merosot semua bisnisnya,” terangnya.
Setelah angka Covid-19 turun, lanjut Eka, shipping (kegiatan pengiriman barang dari penjual ke pembeli) mulai turun. Sehingga saat ini, dalam setiap minggu dua sampai tiga kali bayer datang. Mulai dari Amerika, Perancis, Saudia Arabia, Korea datang ke tempatnya untuk order. Ditambah saat ini, Perancis dan Eropa sedang krisis energi sehingga permintaan cukup banyak.
“Dari Perancis, ada permintaan briket 50.000 ton briket kalori di atas 4.000 per bulan. Karena pakai kapal sendiri sehingga harus 50.000 ton, saya hubungi semua teman-teman yang usaha briket di Indonesia hanya terkumpul 15.000 ton. Jadi sampai sekarang kebutuhan itu belum terpenuhi,” ceritanya.
Sehingga saat ini, ia hanya mampu mengerjakan permintaan antara 100 ton sampai 300 ton per bulan. Menurutnya permintaan briket batok kelapa cukup besar namun karena usaha miliknya hanya Usaha Kecil Menengah (UKM) sehingga untuk mendapatkan pendapatan lebih besar, agak susah.
“Tapi untuk kwalitas, alhamdulillah kami sudah diakui. Jadi the best produk of Indonesia yang paling bagus di luar negeri adalah Charcoa. Charcoa Indonesia is the best of the word, jadi diakui oleh seluruh Indonesia, alhamdulillah itu yang menjadi main power kita para pengusaha, produk Indonesia produk kebanggaan,” ucapnya.

“Kita masih jalan hanya satu shift, 18 orang. Kita sudah menjadwal. Bulan Oktober ini, Silverco ya ke Turky, USA, Rusia dan Inggris masing-masing 1 kontainer jadi sudah 100 ton. Bulan depan rencananya ke Jebel Ali, Silverco juga. Rencananya untuk Silverco ini, kalau sudah sampai di Turky, insya Allah 200 ton per bulan,” jelasnya.
Sehingga saat ini, ia berencana menambah kapasitas dengan menambah mesin. Namun menurutnya yang sulit untuk menjaga kestabilan kwalitas dan menjaga pasar. Kepuasan pelanggan menjadi penting bagi pengusaha briket. Sehingga untuk menjaga kwalitas, yang awalnya mengambil bahan setengah namun saat ini dari awal.
“Ita dulu tapi sekarang dari awal, dari batok sampai jadi briket. Ekspor ke Eropa ini baru perdana tapi ke Rusia per bulan, 26 ton. Rata-rata pemasukan per bulan, kalau 1.100 kali 100 ton tapi saat ini belum kontinyu karena kena pandemi. Jadi sekarang masih 2 kontainer,” pungkas Executive Director PT Energi Natural Indonesia ini. [tin/kun]






