Gresik (beritajatim.com) – Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri, mengumpulkan dai dan khatib se-Kabupaten Gresik, Kamis (12/10/2022). Kepada para dai dan khatib, densus mengajak untuk menyebarkan Islam Wasathiyah untuk menangkal bahaya radikalisme.
Dikumpulkannya para dai dan khatib itu juga dalam rangka bersilaturrahmi sebagai upaya mewujudkan islam washatiyah untuk Indonesia damai. Kegiatan tersebut, juga turut melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan.
Bupati Gresik Fandi Akmad Yani (Gus Yani) menuturkan, toleransi dan suasana damai harus dijaga dengan baik demi keutuhan bersama. Di samping itu, dai dan khatib berperan penting dalam membawa pesan perdamaian serta mengarahkan masyarakat untuk menghindari pemikiran dan perilaku intoleransi dan radikalisme.
“Dai dan khatib dianggap memegang peran sentral mengingat pemeluk Islam menjadi mayoritas di Gresik,” tuturnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Gresik”]
Mantan Ketua DPRD Gresik itu mengatakan, keberadaan Da’i dan Khatib diharapkan mampu sebagai penyejuk umat dengan menebarkan pemahaman yang bernuansa perdamaian.
“Tolong masyarakat diberi contoh perilaku yang mencerminkan kebaikan dan perdamaian melalui uswatun khasanah. Terlebih, agama hadir untuk membimbing ke arah kebaikan dan perdamaian,” katanya.
Kedatangan Densus 88 Anti Teror di Gresik ini guna mencegah intoleransi dan radikalisme di Indonesia. Kabupaten Gresik sendiri menjadi tempat ke 18 pelaksanaan kegiatan tersebut. Nantinya, agenda sama akan dilaksanakan merata di berbagai wilayah Indonesia oleh Direktorat Pencegahan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri.
Sementara itu, Kanit 1 Subdit Kontraideologi Direktorat Pencegahan Densus 88 Polri AKBP M.Dofir menyatakan silaturahmi ini menggandeng dai dan khatib karena dianggap mereka memiliki peran strategis terjun langsung ke masyarakat untuk menyuarakan pencegahan intoleransi dan radikalisme.
“Kita mencegah karena kebanyakan orang-orang yang terkena paham radikalisme dan intoleransi disebabkan informasi yang tidak akurat, pemahaman agama kurang, banyak belajar ke youtuber tidak ada gurunya,” ujarnya.
Masih menurut M. Dofir kegiatan yang digelar oleh timnya ini murni bersilaturrahmi untuk menjaga keutuhan, dan kedamaian bangsa Indonesia, tanpa ada unsur kepentingan politik.
“Melalui kegiatan silaturahmi ini, semoga para dai dan khatib bisa mencegah dengan damai. Pasalnya, dua profesi agama itu garda terdepan corong membantu pemberantasan intoleransi dan radikalisme,” pungkasnya. [dny/beq]






