Surabaya (beritajatim.com) – Golongan darah baru telah ditemukan para ilmuwan dari University of Bristol dan NHS Blood & Transplant (NHSBT).
Temuan darah yang termasuk langka ini diterbitkan dalam Blood, jurnal American Society of Hematology, serta siaran persnya pada tanggal 26 September lalu.
Penemuan golongan darah ini sekaligus memecahkan misteri selama 30 tahun di antara para ilmuwan. Yakni mengenai dasar dari tiga antigen yang diketahui, tetapi secara genetik tidak dapat dicirikan, karena tidak cocok dengan golongan darah yang selama ini umum diketahui.
Seseorang memiliki golongan darah ditentukan oleh ada tidaknya protein di permukaan sel darah merah, yang berfungsi sebagai identifikasi golongan darah. Meskipun kebanyakan orang sudah familiar dengan konsep golongan darah seperti ABO atau Rh (plus atau minus), namun masih banyak golongan darah penting lainnya yang masih sukar diketahui.
Identifikasi golongan darah seseorang sangat penting untuk mencegah proses antibodi yang tidak diharapkan. Jika ada ketidakcocokan antara darah satu orang dan darah orang lain, kemungkinan aloimunisasi (proses di mana seseorang menghasilkan antibodi terhadap antigen golongan darah yang tidak mereka bawa) muncul.
Kehadiran aloantibodi dapat menyebabkan konsekuensi klinis dalam transfusi hingga kehamilan dengan memicu serangan oleh sistem kekebalan tubuh.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kesehatan”]
Lebih lanjut mengenai penelitian yang dilakukan University of Bristol dan NHS Blood & Transplant (NHSBT). Dari susunan abstrak jurnalnya, disebutkan bahwa individu yang mengalami alloantibodi terhadap kumpulan beberapa antigen yang kemudian disebut Er, diteliti dengan menerapkan uji klinis yang intensif, dimana memungkinkan analisis yang simultan dari semua urutan DNA pengkode gen yang dibawa mereka.
Perubahan spesifik diidentifikasi dalam pengkodean gen untuk protein Piezo1 yang menghasilkan produksi protein. Protein ini mengubah permukaan sel individu-individu yang mengalami alloantibodi. Singkatnya penelitian ini membuktikan bahwa aloantibodi terhadap antigen Er mengikat Piezo1, yang diperlukan untuk identifikasi antigen Er.
Sayangnya aloantibodi ini dikaitkan dengan kehilangan bayi dalam dua kasus kehamilan. Sesuai yang dikutip dari detikHealth, bahwa pertama kali penelitian ini ditemukan secara tak sengaja setelah dua wanita hamil yang kehilangan anaknya. Para dokter melakukan pemeriksaan hingga menemukan adanya komplikasi dalam darah kedua wanita hamil tersebut.
Namun hikmahnya, dengan menemukan dasar genetik golongan darah baru ini memungkinkan para ilmuwan bisa mengembangkan tes baru untuk mengidentifikasi orang-orang dengan golongan darah yang tidak biasa.
Piezo1 diketahui memiliki peran penting dalam kesehatan dan ilmu penyakit, meskipun masih banyak yang harus kita pahami, terobosan tim peneliti ini semakin meningkatkan pengetahuan kita dan mewakili tonggak baru lainnya dalam ilmu hematologi.
Melansir HelathNews, Dr Tim Satchwell, salah satu penulis utama studi di University of Bristol, mengatakan: “Studi ini adalah contoh yang bagus tentang bagaimana teknologi baru dapat digabungkan dengan pendekatan yang lebih tradisional untuk menjawab pertanyaan lama yang tidak mungkin dijawab, bertahun-tahun yang lalu. Fakta bahwa Er ternyata adalah Piezo1, protein dengan minat yang begitu luas membuatnya semakin menarik.”
Hasil penelitian ini sekaligus sebagai pembuka studi-studi selanjutnya yang berkaitan dengan kesehatan dan penyakit. (Kai/nap)






