Surabaya (beritajatim.com) – Sampai hari ini, masih ada sebagian kelompok yang mempermasalahkan adanya perayaan Maulid Nabi. Alasan utamanya, karena Maulid Nabi tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan menganggap perayaannya, sebagai bid’ah.
Namun, Di Indonesia sendiri, perayaan Maulid Nabi sudah dijadikan hari besar bagi umat muslim. Bahkan, ia ditetapkan sebagai hari libur nasional. Lalu, sebenarnya, siapa yang telah menginisiasi dirayakannya Maulid Nabi?
Menurut Moch. Yunus dalam tulisannya berjudul ‘Peringatan Maulid Nabi (Tinjauan Sejarah dan Tradisi di Indonesia)’ orang yang pertama kali menginisiasi perayaan Maulid Nabi adalah Khalifah Muiz li Dinillah, seorang Khalifah dari Dinasti Fathimiyyah di Mesir tahun 341 hijriyah.
Namun setelah itu, Maulid Nabi sempat dilarang oleh Al-Afdhal bin Amir al-Juyusi. Dan kembali dirayakan pada masa Amir li-Ahkamillah di tahun 524. Secara resmi, perayaan Maulid Nabi kembali dirayakan melalui instruksi Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 579 H. Tujuannya ialah untuk meningkatkan semanagat keislaman sekaligus guna menyeimbangi perayaan Natal umat asrani.
Setahun setelah instruksi tersebut, dirayakanlah Maulid Nabi secara besar-besaran dengan diadakannya sayembara menulis riwayat Nabi dan puji-pujian terhadap Nabi Muhammad saw. Dan Syaikh Ja’far al-Barzanji keluar sebagai pemenangnya. Hingga hari ini, kitab tulisannya Maulid Nabi al-Barzanji sering kita dengar dibaca oleh umat Islam di Indonesia ketika malam perayaan Maulid Nabi.
[berita-terkait number=”5″ tag=”doa”]
Sejak hari itu, perayaan Maulid Nabi kian semarak. Maulid Nabi sendiri diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yang diyakini sebagai hari kelahiran Nabi. Namun, penetapan tanggal kelahiran Nabi ini juga menuai kontroversi sebab penanggalan Islam baru dibuat pada masa Umar bin Khattab tahun 630-an Masehi. Sebagian percaya bahwa Nabi Muhammad lahir pada 9 Rabiul Awwal dan lainya percaya bahwa Nabi lahir pada 12 Rabiul Awwal.
Keutamaan Memperingati Perayaan Maulid Nabi
Di dalam al-quran surat al-Ahzab 33:56 Allah memberi perintah agar kita bersalawat kepada Nabi Muhammad, yang bunyinya:
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepada-Nya.”
Keutamaan dalam perayaan Nabi ialah, meningkatkan rasa syukur Umat Islam atas kelahiran Nabi sebagai pembawa risalah dan contoh teladan umat Islam dan menambah pengetahuan tentang Nabi yang disyiarkan melalui majelis ilmu. (Jhn/nap)






