Jember (beritajatim.com) – Dewan Pimpinan Cabang Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan Kophi (Konsorsium Penegakan Hukum Indonesia) menawarkan bantuan hukum kepada keluarga korban tragedi Kanjuruhan. Mereka siap mendampingi jika keluarga korban menggugat otoritas berwenang yang bertanggung jawab dalam insiden tersebut.
Hal ini disampaikan Ketua Ikadin Jember Joko Wahyudi, saat mengunjungi keluarga almarhum Faiqotul Hikmah (22) di Pakem, Kecamatan Sumbersari, dan Noval Putra Aulia (19), di Lamparan, Wirolegi. Joko berkunjung dengan didampingi penasihat Ikadin Jember Jani Takarijanto, Didik Muzanni, dan sejumlah pengurus organisasi tersebut. Selain menawarkan bantuan, mereka juga memberikan santunan.
“Kalau keluarga butuh mempersoalkan secara hukum pidana maupun perdata, saya dan teman-teman siap mendampingi. Ada banyak pengacara yang siap membantu. Semuanya gratis, tidak dipungut biaya,” kata Joko.
Sofia, ibu Faiqotul, berterima kasih atas bantuan tersebut. “Anak saya anak yang baik. Dia kerja di Mitra Tani. Saya dibelikan kalung dan televisi,” katanya, mengenang putri bungsu dari lima bersaudara itu.
Hal serupa juga diungkapkan Joko kepada kakak Noval, pasangan suami istri Fandi Arif Permana dan Eka Sulfiya Nurjannah. “Teman-teman dari Jakarta yang tergabung dalam Kophi juga akan membantu,” katanya.
Fandi kemudian menceritakan kenangannya terhadap Noval. “Dia anak bungsu dari lima bersaudara. Baru lulus SMK tahun ini. Setahu saya, dia tidak pernah nonton sepak bola ke Malang sebelumnya. Baru kali ini,” katanya.
Noval tidak minta izin kepada Fandi untuk ke Malang, Sabtu (1/10./2022) itu. “Kalau pamit, tidak akan saya perbolehkan, karena mau ada tahlil seribu hari Bapak dan Ibu pada hari Senin. Tapi Jumat, dia sempat tanya ke saya: ‘selamatannya jadi kapan, Mas? Saya bilang hari Senin,” katanya.
Minggu dini hari, Fandi memperoleh kabar soal kematian sang adik. Noval ternyata berangkat ke Malang bersama teman-temannya. Kabar duka pertama justru diterima adik Fandi yang berada di Jogjakarta. “Mungkin (teman-teman Noval) mau mengabari saya takut,” kata Fandi.
Fandi tidak kuat menceritakan bagaimana kondisi Noval di Kanjuruhan. Ia memilih masuik ke dalam rumah dan mempersilakan Eka, sang istri, melanjutkan cerita. “Saya tidak tega,” katanya.
Menurut Eka, Noval dan temannya sempat terjatuh dalam insiden di dalam Stadion Kanjuruhan tersebut. “Dia sempat diangkat Aremania lainnya. Sementara Noval jatuh, tidak bisa berdiri. Kata temannya, dia terinjak-injak (penonton yang panik karena semprotan gas air mata). Noval mengaku sesak napas, karena gas. Dia tidak kuat lalu jatuh dan terinjak-injak,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kericuhan-laga-arema-vs-persebaya”]
Noval berada di Tribun 12 yang jadi sasaran gas air mata. “Pintu keluar stadion tidak terbuka. Jadi posisi teman-teman yang berada di barisan depan terdorong orang-orang yang di belakang. Tergencet begitu,” kata Eka.
Sebelum meninggal, Noval sempat mengambil video kejadian di dalam stadion dengan kamera ponsel. “HP-nya selamat. Cuma dompetnya yang hilang,” kata Eka.
Pengurus Ikadin Jember meminta Eka mengirimkan rekaman video itu via WhatsApp. “Kami akan dampingi keluarga Mas Noval bila ada tuntutan perdata maupun pidana terhadap aparat yang menyebabkan matinya korban. Kami akan dampingi gratis. Tidak usah biaya,” kata Joko. [wir/ted]






