Malang (beritajatim.com) – Suasana duka masih terasa di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Selasa (4/10/2022) siang. Sejak pagi hari, sejumlah masyarakat yang melintas menyempatkan diri melihat dari dekat puing puing sisa kerusuhan yang menewaskan 125 orang.
Pantauan beritajatim.com, kondisi Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang masih terlihat kotor, pasca terjadinya tragedi sepakbola, Sabtu (1/10/2022) lalu. Sampah masih tampak memenuhi setiap sudut area stadion.
Kondisi yang sama juga terlihat di dalam area Stadion. Beberapa fasilitas umum juga tampak rusak, seperti terlihat pada pagar pembatas tribun utara.
Pemandangan semacam itu terbilang tidak biasa. Biasanya, pasca penyelenggaraan pertandingan Arema FC di Stadion Kanjuruhan, keesokan harinya semua sudut sudah bersih.
Bupati Malang, HM Sanusi mengatakan belum merinci berapa total kerugian akibat kerusakan di Stadion Kanjuruhan itu. Ia mengaku tidak terlalu menganggap penting kerusakan-kerusakan faslitas umum tersebut.
“Sepertinya tidak terlalu banyak kerusakan. Belum tahu, kita belum menghitung. Kita fokus pada korban dulu,” katanya, Selasa (4/10/2022).
Sementara di beberapa titik terlihat garis polisi, di antaranya pada pintu keluar 10, 11, 12, 13, dan bekas pembakaran pagar yang berada di gerbang utama stadion.
Belum diketahui, apa alasan polisi memberikan garis polisi di 4 pintu keluar itu. Laboratorium Forensik masih menyisir setiap sudut stadion untuk melakukan penyelidikan.
Hanya saja, 4 lorong pintu keluar itu mengalami beberapa kerusakan. Salah satunya di pintu keluar 13, terlihat pagar pintu rusak, dan temboknya terlihat bolong seperti bekas dibobol.
[berita-terkait number=”4″ tag=”arema-vs-persebaya”]
Sementara di halaman Stadion Kanjuruhan deretan karangan bunga berjejer, dari seluruh lapisan masyarakat. Bahkan karangan bunga dari Bonek Mania yang merupakan rival sejati Aremania, juga turut berbelasungkawa mengirimkan karangan bunga.
“Semoga kejadian ini tidak terulang lagi. Saya berharap ini yang terakhir kalinya,” tutur Nico Haryanto, warga Kepanjen, Kabupaten Malang usai memanjatkan doa di Patung Singa. [yog/but]







