Surabaya (beritajatim.com) – Pengamat sepak bola asal Makasar, Hanafing mengatakan, permasalahan sepakbola Indonesia dari tahun ke tahun pascakerusuhan di Stasion Kanjuruhan Malang, Minggu (1/10/2022) malam, adalah perilaku suporter masih belum banyak perubahan.
Suporter masih belum bisa menahan diri jika tim yang dicintainya kalah di kandang. Salah satu contoh beberapa waktu lalu, pertandingan Persebaya melawan Rans Nusantara yang seharusnya tidak terjadi. beruntung, saat itu tidak ada korban. Sedangkan di Malang, korban berjatuhan meski bukan karena dampak kerusuhan, melainkan kepanikan yang terjadi ketika petugas menembakkan gas air mata di tribun penonton.
“Permasalahan sepakbola kita dari tahun ke tahun tentang suporter belum banyak perubahan. Suporter belum bisa menahan diri jika timnya kalah di kandang. Jadi pendidikan dan pengetahuan tentang dukungan ke tim harus dipahamkan. Bahwa permainan itu ada Menang, Seri dan Kalah. Nah, jika tim kita kalah di kandang, ya legowo menerima, meski itu pahit dan sedih dirasakan,” ungkap mantan pemain Niac Mitra ini ketika dihubungi melalui telepon selulernya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kericuhan-laga-arema-vs-persebaya”]
Lebih lanjut dikatakan mantan pelatih tim Pra PON sepak bola Jawa Timur 2016 lalu itu menegaskan jika suporter hanya perlu mengkritisi kerja tim atau manajemen, bukan melakukan tindakan seperti kekerasan atau pengerusakan. “Jadi Supporter hanya perlu mengkritisi kerja tim atau manajemen,” tulisnya.
Semoga, lanjutnya, federasi bisa memberikan keyakinan kepada FIFA untuk tidak memberikan sanksi berat pada sepak bola Indonesia. Pasalnya Indonesia telah mempersiapkan berbagai kegiatan kejuaraan sepak bola internasional, salah satunya Piala Dunia U20 tahun depan.
“Semoga petinggi PSSI bisa mempengaruhi FIFA, karena kita sudah mempersiapkan sebagai Tuan Rumah Piala Dunia U20. Jika merujuk sanksi FIFA, maka PSSI bisa kena sanksi tidak bisa bermain di tingkat Internasional selama 5 tahun,” imbuhnya.
Jika melihat untuk korban yang berjatuhan ini bukan disebabkan karena kericuhan yang ada di tengah stadion usai pertandingan, mereka menjadi korban penyelamatan diri untuk keluar stadion. “Karena yang kisruh dan banyak korban meninggal kemarin malam itu, bukan dari pertandingannya, tetapi dari suporter yang masuk ke lapangan dan akibat Gas Air Mata, sehingga banyak yang meninggal akibat Sesak Nafas dan terinjak karena penonton berlari menyelamatkan diri,” tutupnya. (way/kun)






