Surabaya (beritajatim.com) – Jalur pipa Nord Stream 1 & 2 yang merupakan aset strategis Eropa telah mengalami ledakan pada Senin (26/9).
Ledakan pada dua jalur tersebut berpotensi mengancam pasokan gas Negara Eropa. Pasalnya, pipa tersebut merupakan jaringan pipa bawah laut yang menjadi rute pasokan gas dari Rusia ke negara-negara di Eropa.
Berdasarkan laporan The Guardian, para pengamat politik dan pemimpin Eropa menduga bahwa, ledakan tersebut merupakan hasil dari sabotase. Sebab, pipa di bawah laut tersebut telah didesain sedemikian rupa dengan tingkat keamanan tinggi, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Ledakan tersebut tampak nyata terekam oleh militer penerbangan Denmark, di mana semburan tambak menyembur ke permukaan laut selebar 1 kilometer.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen meyakini kejadian itu sebagai sabotase yang dilakukan dengan sengaja untuk mengganggu infrastruktur energi Eropa.
[berita-terkait number=”5″ tag=”rusia”]
Dalam keterangannya di media, Ursula mengaku akan segera melakukan tindakan tegas dengan mendesak dilakukannya penyelidikan terhadap peristiwa tersebut.
Kebocoran pipa Nord Stream 1 sendiri terjadi di Timur Laut Bornholm, Denmark. Sementara, lainnya berada di perairan Swedia.
Pipa tersebut berbahan baja setebal 4,1 cm dan dilapisi dengan beton bertulang baja setebal 11 cm. Setiap bagian dari pipa sendiri memiliki berat 11 ton dengan 24-25 ton setelah dilapisi beton.
Kesimpulan bahwa adanya sabotase atas jalur pasokan gas ini tidak hanya berasal dari pejabat Eropa, namun juga para peneliti dan para seismolog. Mereka berpendapat bahwa, tampakan gelombang yang memantul dari bawah laut itu terlihat nyata seperti sebuah ledakan dan bukan karena gempa bumi.
Spekulasi tentang kapal selam yang jadi sebab adanya ledakan di pipa tersebut pun dibantah. Karena zona perairan itu terbilang dangkal dan hanya memiliki kedalaman 80-110 meter. Bahkan, jika pun ada kapal selam yang melalui jalur tersebut, ia akan dengan mudah terdeteksi oleh pihak keamanan setempat.
Salah-satu Narasumber The Guardian mengatakan, bahwa ada kemungkinan sebuah ranjau sengaja dijatuhkan oleh kapal komersil yang telah disamarkan. Menurut hipotesisnya, ranjau itu dijatuhkan beberapa hari atau minggu sebelum hari H ledakan, dan diaktifkan dari jarak jauh.
Perlu diketahui, zona pipa yang menjadi jalur pasokan gas Rusia Eropa tersebut merupakan zona pengecualian 5 mil untuk pengiriman dan penerbangan di bawah 1.000 meter telah didirikan di daerah tersebut. Atas kekisruhan tersebut, beberapa negara Eropa saling tuding terkait aktor di balik ledakan pipa Nord Stream 1 & 2. (Jhn/nap)






