Ponorogo (beritajatim.com) – Penyesalan selalu datangnya di akhir peristiwa. Setidaknya itulah yang saat ini dirasakan oleh para tersangka penganiayaan terhadap AM, santri Pondok Gontor yang meninggal. Dua tersangka mengaku menyesal, mereka tak menyangka apa yang dilakukan oleh keduanya menyebabkan kematian pada korban. Para tersangka, yakni MFA (18) dan IH (17), juga merasa terpukul dan menyesali perbuatannya.
“Kondisi kedua klien kami, dalam keadaan terpukul dan menyesali perbuatannya. Mereka tidak menduga dan tidak menyangka perbuatan yang dilakukan menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan oleh semua orang,” kata Suyatman, selaku kuasa hukum dari tersangka MFA dan IH, Jumat (16/9/2022).
[berita-terkait number=”3″ tag=”santri-gontor-dianiaya”]
Suyatman mewakili para tersangka meminta maaf kepada orangtua korban, pengasuh Pondok Gontor 1, rekan santri dan para alumni Gontor. Dijelaskan oleh Suyatman, kedua tersangka hari-hari ini hanya merenung dan tatapannya kosong. Keduanya kalau tidak diajak bicara, hanya diam saja. “Kadang terlihat menangis sendiri. Bisa jadi mereka sangat menyesal karena sudah mengecewakan banyak orang,” katanya.
Dalam pemeriksaan beberapa hari ini, kedua tersangka juga didampingi oleh Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A), pekerja sosial, dan unit PPA Satreskrim Polres Ponorogo, yang mencoba memberi semangat mereka.
Orangtua kedua tersangka hingga saat ini juga belum bisa ke Ponorogo. Suyatman menyebut bahwa orangtua salah satu tersangka baru bisa ke bumi reog diperkirakan pekan depan. “Jadi saat ini komunikasinya hanya lewat telepon saja. Kami berharap perkara tersebut segera dilimpahkan dan disidangkan,” pungkas pensiunan polisi tersebut. [end/suf]






