Malang (beritajatim.com) – Pengetahuan terkait mitigasi bencana sangatlah penting. Terutama bagi jurnalis saat meliput terjadinya bencana. Tak jarang, para awak media tidak sadar betapa berisikonya melakukan peliputan di daerah bencana, tanpa memikirkan kesiapan diri dalam menjalankan tugas profesi.
Kasi Pelayanan PMI Malang Amirul Yasin menjelaskan, mitigasi individu menjadi sangat penting ketika menghadapi bencana alam. Berdasarkan kajian para ahli, dengan mitigasi berpotensi selamat dari bencana sampai 76 persen.
“Kalau di PMI lebih banyak kepada penanganan manusianya. Namun. mitigasi individu menjadi faktor penting selamat dari bencana alam,” ungkap Yasin, Rabu (14/9/2022) dalam Workshop Mitigasi Bencana yang digelar Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Malang Raya.
Sementara itu, jurnalis dari Tempo yang juga mantan Ketua AJI Malang, Abdi Purmono melanjutkan, jurnalis harus selalu siap karena bencana merupakan peristiwa yang tidak bisa ditebak. Kesiapan logistik menjadi salah satu hal penting yang harus dibawa. Paling tidak jurnalis sudah membawa persiapan logistik selama 3 hari, karena saat liputan bencana seringkali jurnalis akan menginap di lokasi.
“Jurnalis harus menyiapkan logistik jika berangkat ke lokasi bencana. Jangan malah nyusahin yang lagi susah kena bencana,” ujar pria yang akrab disapa Abel ini.
[berita-terkait number=”3″ tag=”ijti-malang”]
Terpisah, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Malang, Mamuri selaku pembicara dalam Mitigasi Bencana menjelaskan, edukasi sosialisasi dalam Mitigasi Bencana sangat penting. BMKG siap memberikan edukasi terkait simulasi bencana alam seperti potensi terjadinya Tsunami dan Gempabumi.
“Masyarakat harus tahu pentingnya mitigasi kebencanaan. Selama ini masyarakat beranggapan bahwa BMKG menakut nakuti masyarakat, tidak seperti itu sebenarnya. Karena kami BMKG bukan meramal, BMKG tahu ada gempa setelah gempa itu terjadi,” tuturnya.
Terkait peta rawan Tsunami, Mamuri memaparkan, peta peta daerah rawa Tsunami selalu ditekankan pentingnya mitigiasi. Bukan untuk menakut-nakuti. “BMKG selalu mengupdate, real time, berpacu dengan waktu untuk memberikan informasi gempa. Dengan sensor itulah kami mengalisa ulang. Sistem itu juga dilakukan seperti di negara Jepang dan Amerika. Dan catatan akhir kami, Jawa Timur adalah daerah yang memang rawan gempa dan tsunami. Sehingga harus ada acuan mitigasi kebencanaan yang akurat,” tegas Mamuri.
Ditempat yang sama, Ketua IJTI Korda Malang Raya M Tiawan menambahkan, kegiatan workshop mitigasi bencana bertujuan untuk memberikan bekal bagi kalangan jurnalis ketika melakukan peliputan. “Mitigasi bencana alam sangat dibutuhkan karena jurnalis kerap kali melakukan peliputan di lokasi bencana. Sehingga dengan adanya workshop ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan awak media dalam mengurangi resiko bencana saat di tempat bencana,” pungkas Tiawan. [yog/suf]







