Ngawi (beritajatim.com) – Sebanyak 100 mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berunjuk rasa, Selasa (6/9/2022). Massa bertolak dari Tugu Kartonyono dan bergerak menuju Kantor DPRD Ngawi guna menemui anggota parlemen setempat.
Ketua PMII Ngawi Rizalia Setya Putra mengungkapkan jika dalam aksi tersebut, dia menuntut beberapa hal utamanya menolak harga BBM, naikan upah buruh, menaikkan harga gabah petani, pengendalian harga pokok atau sembako, memberikan tunjangan khusus pada guru honorer, serta memprioritaskan subsidi BBM pada angkutan umum, becak, dan ojek online.
Usai sempat berorasi sekitar setengah jam mereka pun ditemui oleh Ketua DPRD Ngawi Heru Kusnindar, dan senyumlah wakil ketua. Pun, sekitar 40 menit bertemu, mahasiswa pun sepakat mengakhiri demonstrasi.
[berita-terkait number=”5″ tag=”demo-tolak-bbm”]
“Kami mengawal dampak kenaikan harga BBM seperti inflasi. Harus ada penguatan ekonomi di sejumlah lini. Sekaligus, pemberian BLT BBM jangan sampai ada penyelewengan. Kami diterima dengan baik oleh DPRD dan dikawal dengan tertib oleh pihak kepolisian,” kata Rizalia usai meninggalkan gedung DPRD Ngawi.
Sementara itu, Ketua DPRD Ngawi Heru Kusnindar mengungkapkan jika pihaknya memang tak memiliki kewenangan penuh untuk mengintervensi kebijakan pemerintah pusat. Sehingga, dia bakal mengawal aspirasi yang disampaikan mahasiswa ke pusat.
Heru turut mengapresiasi para mahasiswa yang mau bergerak untuk merespons kenaikan harga BBM serta dampaknya yang terjadi di masyarakat. Heru mengungkapkan hal senada terkait adanya BLT BBM yang harus dikawal penyalurannya.
“Tentu kami sebagai bagian dari pemerintah akan turut mengawasi penyaluran BLT. Setidaknya bagi yang merasa tidak layak sebaiknya dievaluasi. Lebih baik jika mereka sadar diri dengan mengembalikan bantuan jika mereka sudah merasa mampu,” katanya. (fiq/kun)






