Surabaya (beritajatim.com) – Ada sebuah istilah yang cukup populer belakangan ini, yakni Imposter Syndrom. Lalu, apa sih yang dimaksud dengan Imposter Syndrom itu? Ia adalah sebuah kondisi psikologis seseorang di mana mereka merasa tidak pantas untuk mendapatkan pencapaian yang telah diraih. Orang dengan syndrom ini sering kali merasa was-was, dan beranggapan orang lain akan menganggapnya penipu yang tidak berhak mengakui pencapaiannya.
Orang Imposter Syndrom mempercayai, bahwa apa yang telah ia raih selama ini hanya sebuah kebetulan saja. Ia akan mulai meragukan kemampuannya sendiri dan takut mencoba hal-hal baru yang menantang.
Kondisi psikologis macam ini, justru kerap diderita oleh mereka dengan prestasi yang mengagumkan. Meski sindrom ini masuk dalam ruang lingkup psikologis, namun imposter syndrom tidak masuk dalam penggolongan gangguan jiwa., yang artinya syndrom ini tidak masuk kategori penyakit mental.
Meski bukan penyakit mental, kamu perlu mewaspadai kondisi ini jika intensitasnya cukup tinggi. Sebab, hal ini bisa berdampak pada menurunnya performa kinerja si penderita. Lalu apa saja tanda-tanda orang dengan gangguan imposter syndrom?
Gejala yang umum dialami ialah, mereka merasa sebagai penipu atas keberhasilan yang diraih, takut ketahuan kalau-kalau prestasi yang selama ini diraih bukan karena kerja kerasnya, mereka juga kesulitan menginternalisasi kesuksesan diri sendiri.
Dalam dunia kerja, orang dengan imposter syndrom selalu merasa khawatir, bahwa dirinya tidak bisa memenuhi ekspektasi rekan kerja dan bosnya. Jika dialami dalam jangka panjang, imposter syndrom bisa membuat kinerja orang yang bersangkutan jadi mandek karena selalu merasa takut untuk membuat kesalahan.
Bahkan imposter syndrom juga dirasakan oleh Neil Amstrong. Hal itu diketahui dari catatan yang dimuat di jurnal Neil Gaiman berjudul ‘Neil Story’. Jurnal itu merekam percakapan antara dua orang yang memiliki nama depan sama, Neil Gaiman dan Neil Amstrong.
[berita-terkait number=”5″ tag=”penyakit”]
Dalam jurnal itu, ada fakta menarik, bahwa sosok Neil Amstrong yang dikenal publik akan pencapaiannya sebagai manusia pertama yang mendarat di bulan, justru merasa pencapaiannya itu adalah kosong belaka, ia merasa pencapaian yang dia raih tidak lebih dari sekadar tugas yang dibebankan kepadanya.
Lalu, bagaimana cara mengatasi imposter syndrom ini? Kamu bisa memulainya dengan mengakui pencapaianmu sebagaimana adanya, mengerti alur perasaan artinya jika kamu mendapati perasaan berlebih semacam itu, maka kamu cukup menganggapnya sebatas perasaan dan bukan realitas.
Jika, kamu kesulitan mengatasi imposter sindrom dalam dirimu, kamu bisa mulai menuliskan perasaanmu sebagai pengobatan awal dan jika masih belum dirasa berhasil, silahkan hubungi orang profesional yakni psikolog. (Jhn/ian)






