Surabaya (beritajatim.com) – Kasus pelecehan dan kekerasan seksual seolah tak ada hentinya terjadi di masyarakat belakangan ini. Mirisnya sebagian besar korban masih berstatus di bawah umur atau usia pelajar.
Narasi perlawanan terhadap tindakan kriminal ini pun dirasa tak cukup untuk beredar di kalangan pemerhati, pegiat, aktivis ataupun masyarakat dewasa saja. Sebab, sudah terbukti anak usia pelajar sebagai kelompok rentan, juga perlu diberi ruang bersuara.
Hal ini bertujuan untuk mensinergikan komunikasi sosial agar dapat mempersempit ruang gerak pelaku tindak kejahatan tersebut.
Bersama Yayasan Kreasitama Foundation, sekelompok pelajar dari jurusan film SMKN 12 Surabaya membangun proses produksi yang melahirkan karya film pendek ‘Hari yang Gelap’.
Film yang secara otentik disuarakan oleh representasi anak usia pelajar ini, mengirimkan narasi lugas untuk menciptakan ruang aman lewat ruang komunikasi interpersonal di semua institusi masyarakat, baik keluarga maupun sekolah.
Ketua Umum Yayasan Kreasitama Sinema Kita, Ryo Maestro menyampaikan pentingnya muatan pesan yang diusung oleh film pendek ini, menjadi pendorong utama bagi yayasannya untuk membangun relasi dengan berbagai stakeholder dalam rangka mengirimkan karya tersebut hingga sampai ke segmen penontonnya.
“Narasi yang termuat di film tersebut kemudian dikemas ke dalam KOLAS (Kolaborasi Layar Arek Suroboyo) yang mencoba merakit lintas stakeholder baik usaha lokal, UMKM, media, komunitas maupun pemerintah kota dalam sebuah kemasan event Narasi Perempuan Dalam Karya Film Lokal,” ujar Ryo, Minggu (4/9/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”film”]
Ia menjelaskan, kegiatan ini dirancang untuk bisa mensirukulasikan narasi yang terkandung dalam karya film tersebut agar dapat terkirim dan ditangkap oleh publik.
“Sinergi antara Kreasitama Foundation yang merupakan representasi entitas pelaku seni film lokal dan KOLAS, yang merupakan ruang apresiasi sekaligus sirkulasi bagi karya film lokal, diharapkan menjadi medium baru yang dapat menyalurkan karya-karya film lokal sebagai literasi dan narasi ke ruang publik,” ungkapnya.
Sementara itu, Koordinator KOLAS, Riffi Alawi berharap bahwa ke depan, skema kegiatan yang kolaboratif ini bisa terus berjalan secara konsisten di Kota Surabaya. “Kami berharap skema kegiatan kolaboratif ini ke depan dapat terus bergulir secara konsisten di Surabaya,” tuturnya. [ipl/but]








