Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi A DPRD Surabaya Imam Syafii meminta evaluasi pelayanan puskesmas di Kota Pahlawan. Pernyataan ini disampaikan Imam menyusul adanya laporan pasien bayi 2,5 tahun yang mengalami Kejang Demam Sederhana (KDS) namun tidak dapat dilayani Puskesmas Keputih akibat tak kebagian regulator tabung oksigen.
Laporan tersebut dia dapatkan beberapa saat setelah peristiwa terjadi pada Minggu (28/8/2022). Bapak dan ibu bayi pun bergegas ke RS Putri yang tidak jauh dari Puskesmas.
“Syukurlah setelah mendapat bantuan pernafasan oksigen melalui hidung, kondisi si bayi pun membaik,” kata Imam saat di Puskesmas Keputih, Senin (29/8/2022).
Politisi Partai Nasdem ini menyampaikan pengaduan masyarakat itu kepada Kepala Puskesmas Keputih, drg. Siti Rozaimah. Imam dan Siti kemudian mengecek ke IRD Puskesmas.
Di situ ia ditemui dr Maria yang sedang berjaga. Dokter Maria menunjukkan tabung kecil berisi oksigen. Namun tidak ada regulatornya.
“Hari Minggu kemarin regulatornya dibawa ambulans Puskesmas bersama emergency kit. Kami dapat tugas P3K di event olah raga di lapangan Mulyorejo,” cerita dr Maria.
Imam geleng-geleng kepala mendengar cerita ini. “Lantas kalau ada pasien dengan kondisi kritis dan butuh oksigen gimana?” tanya Imam. Maria cuma diam. Juga Kepala Puskesmas.
Sebetulnya ada dua regulator tabung oksigen di Puskesmas. Yang satu di IRD dan satunya lagi di ruang persalinan. Kebetulan Minggu siang kemarin, regulator di ruang persalinan sedang dipakai ibu yang melahirkan.
“Kami sudah lama mengusulkan tambahan regulator ke dinkes. Tapi belum dikasih,” terang Maria.
Sebelumnya Puskesmas punya 5 regulator. Yang tiga rusak setelah sering dipakai saat banyak pasien kena Covid 19. Imam juga menanyakan kenapa sekarang regulator tidak dipasang di tabung oksigen di IRD? Padahal ambulan terlihat berada di depan Puskesmas.
“Regulator ada di ambulan bersama emergency kit karena ada jadwal piket Call Center 112. Ambulan standby jika sewaktu sewaktu ada panggilan darurat,” jelasnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Surabaya”]
Imam merasa janggal jika regulator tabung oksigen dipakai gantian di IRD dan ambulan. Menurutnya, harganya tidak mahal hanya ratusan ribu. Tapi keberadaannya sangat vital untuk menyelamatkan nyawa.
Selain itu, sejak tahun 2022, Pemkot Surabaya sudah menetapkan Puskesmas sebagai BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) untuk menambah pendapatan.
“Mestinya sebelum jadi BLUD, semua sarana dan fasilitas medis dilengkapi dulu,” katanya.
Menurut Imam, warga memilih mendapat pelayanan kesehatan ke Puskesmas karena dekat dan murah. “Jangan sampai karena murah lalu menomorduakan keselamatan, seperti anekdot murah njaluk slamet,” kata Imam dengan logat madura. Seharusnya, lanjut Imam, ya murah ya selamat.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Keputih Siti Rozaemah menyampaikan, bahwa ketersediaan tabung oksigen berisi 3 liter, selalu tercukupi oleh Dinas Kesehatan. Namun, sampai saat ini belum ada penambahan regulator tabung oksigen.
“Seharusnya di tiap tabung itu ada regulatornya. Untuk di Puskesmas ini terdapat tabung oksigen, tapi regulator yang berfungsi hanya dua saja,” ucapnya.
Mengenai bayi yang mengalami KDS pada hari Minggu lalu, Siti Rozaemah mengaku menyesal tidak bisa menangani bayi tersebut. Karena itu, agar kejadian serupa tidak terjadi lagi, dirinya akan mengajukan regulator tabung oksigen sesuai dengan ketersediaan tabung oksigen.
“Untuk pengadaan itu di bagian Dinkes yang memberikan. Tapi kalau dibalik kita yang minta dan harus cepat, pastinya butuh waktu. Harapan kami, nggak sampai berminggu-minggu, kalau bisa satu hari langsung ada,” pungkasnya. [asg/beq]






