Buku berjudul ‘On The Border – The Rise and Decline of the Most Political Club in the World‘ ini ditulis Shaul Adar, penulis Israel yang juga fans klub Hapoel Beer Sheva. Diterbitkan oleh Pitch Publishing pada 2022, buku ini berkisah tentang Beitar Jerusalem, sebuah klub yang paling politis di dunia.
Buku ini mengeksplorasi radikalisasi klub sepak bola Beitar. Klub ini mulanya adalah sebuah gerakan olahraga dari partai Zionisme nasional liberal, dan menjadi simbol nyata dari pandangan sayap kanan dan identitas Mizrahi. Belakangab, klub ini identik dengan rasisme dan nasionalisme garis keras.
Ada pertarungan antara fans rasis dan fans yang berpikiran terbuka dalam memperebutkan jiwa klub. Beitar sendiri diproklamasikan oleh sejumlah penggemarnya sendiri sebagai ‘klub paling rasialis di Israel’. Berbeda dengan klub sepak bola Israel yang menyediakan ruang bagi orang Israel dari semua etnis dan orang asing hidup berdampingan, Beitar bahkan tidak ingin merekrut pemain Muslim. Manajemen klub karena takut terhadap kelompok pendukung sayap kanannya sendiri, La Familia.
Tahun 2013, Beitar merekrut dua pemain muslim asal Chechnya, Zaur Sadayev dan Dzhabrail Kadiyev. Namun kehadiran mereka ditentang La Familia. La Familia menginginkan Beitar tetap murni diperkuat pemain-pemain berdarah Yahudi.
Namun tujuh tahun kemudian, tepatnya pada Desember 2020, Beitar menjadi berita utama di seluruh dunia: seorang bangsawan UEA telah membeli 50 persen saham klub itu. Israel dan dunia sepak bola pun terguncang.
Buku ini cukup kompleks. Tak hanya soal sepak bola, buku ini juga kisah tentang Yerusalem, tempat paling bergejolak di Bumi, dan bagaimana kota suci dan pengaruh agama telah membentuk Beitar. Dalam pengantar bukunya, Adar mengatakan, Yerusalem adalah tempat paling politis di bumi dan Beitar adalah klun paling politis di dunia.
“Ini kisah sepak bola sebagai sebuah perang kelas, seperangkat politik, radikalisasi, rasisme, dan dampaknya terhadap fans yang menentangnya. Jika Anda memahami Beitar, anda akan memahami Israel,” tulis Adar.
Oryza A. Wirawan menerjemahkan cuplikan bab 1 berjudul Sindrom, yang bercerita soal kehidupan tragis salah satu pemlik klub Beitar Jerusalem bernama Guma Aguiar.
***
Beitar Yerusalem bertemu dengan mesias mereka sendiri pada pada 2009. Klub sepak bola itu telah memiliki banyak penyelamat selama bertahun-tahun, tapi tidak ada yang seperti Guma Aguiar. Seperti semua mesias lainnya, ujung-ujungnya adalah wahyu personal. Guma, orang yang hangat dan karismatik, bukan berasal dari siapa-siapa dan menjadi ‘raja’ Yerusalem dalam semalam pada 2009. Pria tampan berusia 31 tahun itu mengendarai mobil yang menyolok dan berencana untuk mengambil alih Beitar Yerusalem dari Arcadi Gaydamak, pemilik yang sudah ogah-ogahan. Guma melakukannya dengan mengatasnamakan Tuhan.
Sivan Cohen dari Saluran 10, sebuah TV Israel, mengikutinya berkeliling dan menghadirkan kisah mengharukan ini dalam sebuah tayangan ‘Guma Aguiar Superstar’ kepada kita.
Lahir di Brasil dari ibu Yahudi, Guma dibesarkan di negara bagian Florida AS sebagai seorang Katolik. Dari seorang pemain tenis berbakat yang menjadi instruktur tenis karena cedera, dia bertemu pengusaha dan mulai bekerja dalam bisnis gas alam Bursa Perdagangan New York. Dengan pengetahuan baru ini, pamannya Thomas Kaplan membimbingnya, mencari investasi gas dan minyak.
Saat berada di perpustakaan publik, Guma bertemu John Amoruso, seorang ahli geologi, yang menjelaskan teorinya tentang pengeboran di kedalaman pasir Bossier di Texas timur. Menurut Forbes, Amoruso yakin bahwa sejumlah besar gas alam dapat ditemukan di sana karena pasirnya tebal, jenis formasi bertekanan tinggi yang kondusif bagi perkembangan deposit gas alam. Berdasarkan teori ini, Kaplan mendirikan Leor Energi dan memasang Guma sebagai CEO-nya, membentuk joint venture dengan Encana, perusahaan gas alam terbesar di Kanada, dan Goldman Sachs.
Selama berbulan-bulan tidak terjadi apa-apa; Guma mulai kehabisan waktu dan uang. Pada suatu malam yang membosankan, Guma muda yang baru berusia 25 tahun, menghabiskan waktu menonton TV dan menyaksikan aksi Rabbi Tovia Singer, pendiri dan direktur Outreach Yudaism. Organisasi ini mendeklarasikan diri sebagai organisasi ‘kontra-misionaris’ yang ‘mendedikasikan diri untuk melawan upaya kelompok fundamentalis Kristen dan kultus yang secara khusus menargetkan orang Yahudi untuk dimurtadkan.
Dengan sangat marah, Guma menghubungi Singer untuk mencaci-makinya atas nama Kristus. Namun setelah lima jam berbicara, dia diyakinkan untuk memeluk kembali akar Yahudinya. ‘Saya kembali ke rumah dan semuanya mungkin mengira aku sedang dalam pengaruh obat gila atau semacamnya,’ katanya. ‘Saya mengumumkan kepada semua orang bahwa saya tidak percaya Yesus dan segera saya mengambil langkah yang berselisih dengan semua orang.’
Guma, berhasil meyakinkan keluarga untuk mengikutinya. Empat bulan kemudian dia dan Leor Energy menemukan cadangan gas yang merupakan salah satu penemuan terbesar di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Ketika Encana akhirnya mengebor ladang minyak tersebut, ditemukan 2,4 triliun kaki kubik gas dan perusahaan Kanada membeli semua aset Leor di ladang minyak sebesar $2,55 miliar pada 2007. Guma sendiri diperkirakan menjaring kekayaan hingga 200 juta dolar.
‘Dia merasa itu dikirim Tuhan dan saya merasakan hal yang sama,’ kata Amoruso. ‘Saya merasa seperti membuat lompatan besar menuju Tuhan dan mengelus dan menciumnya. Saya merasa saya sudah lebih dekat dengan Tuhan,’ dia bersaksi kepada Cohen.
Berstatus orang yang sangat kaya, Guma bertanya kepada rabinya soal apa yang harus dia lakukan dengan hidupnya dan karunia yang diperolehnya. Guma dan Jammie, pemandu sorak yang cantik yang menjadi istrinya, pindah ke Yerusalem. Dia mulai menyumbangkan sejumlah besar uang untuk organisasi keagamaan dan memiliki tujuan Zionis, di antaranya March of the Living, sebuah program pendidikan tahunan yang membawa pemuda dari seluruh dunia Yahudi ke Polandia, di mana mereka menjelajahi sisa-sisa Holocaust. Di sana, dalam perjalanan antara satu kamp dan kamp lainnya, Guma untuk pertama kalinya mendapat cerita soal Beitar Jerusalem yang sedang terdesak membutuhkan bos baru.
Jadi, begitulah: sebuah kesempatan di lapangan tenis yang membuat Guma bekerja di New York Mercantile Exchange dan perusahaan baru dengan pamannya. Peralihannya menjadi penganut Yudaisme diikuti penemuan ladang gas yang besar dan menjadikannya makmur sejahtera. Mendonasikan sejumlah uang untuk amal membuka jalan baginya menuju Beitar. Tidak ada satu pun hal yang tak disengaja atau kebetulan di Yerusalem. Jika Anda mencarinya, Anda akan menemukannya.
Guma sosok yang menyenangkan; dipuja oleh para penggemar dan dicintai kamera. Sebelum pertandingan melawan musuh bebuyutan Hapoel Tel Aviv, ‘pertunjukan cahaya dan asap sedang berlangsung di lapangan’, tulis James Montague dalam The Blizzard.
‘Musik berdentum saat gadis-gadis cantik Israel menari di tengah lingkaran lapangan. Di tepi lapangan, Aguiar melompat-lompat mengikuti irama, menari dengan seorang pria yang mengenakan setelan anjing. Aguiar pindah ke lingkaran tengah dan menggoyangkan pinggulnya seirama dengan musik bersebelahan dengan penyanyi. Dia menutup matanya, lengannya dilambaikan ke udara dan tersandung saat melewati koreografi. Para penari tidak ketinggalan irama. “Ini malam Aguiar,” kata Danny Neuman, seorang legenda Beitar mengomentari pertandingan malam itu. “Dia telah menyelamatkan Beitar.”
“Saya ingin melihat nama Yerusalem berkibar, membawa beberapa orang luar ke Israel untuk mengunjungi dan menciptakan kesadaran tentang tempat ini,” kata Aguiar. “Meningkatkan profil Yerusalem akan menjadi hasil yang paling positif. Ini terkoyak oleh banyak konflik. Tapi ada Kristen, Yahudi dan Muslim di sini yang mencintai tanah tempat mereka tinggal. Saya ingin penggemar Beitar beragama Kristen dan Muslim penggemar di sini juga.”’
Guma menari di atas lapangan dan pesta tanpa akhir, memeluk semua orang, melayani wawancara dengan hangat dan mempesona orang-orang di sekitarnya. Dia memberi $ 4 juta ke klub dan berikhtiar untuk musim kompetisi yang hebat. “Ini pertama kalinya saya di Stadion Teddy,” katanya di hadapan kamera.
“Mereka berkata,’ Apakah Anda semacam Mesias? Saya katakan, “Tidak, saya tidak ingin dikaitkan dengan kata seperti itu.” Saya tidak tahu [tentang hasil pertandingan Hapoel]. Hanya Tuhan yang tahu. Mungkin dia merasa sangat simpatik kepada Yerusalem malam ini. Dan jika tidak, mungkin dia akan merasa ekstra simpatik di akhir tahun.” Untuk pertama kalinya ada sedikit nada marah yang berbeda pada suaranya.
Guma segera terlihat menonjol di antara para pemilik klub lain di Israel. Dia tidak takut untuk menyampaikan pendapatnya, membawa harapan segar untuk penggemar Beitar dan kesenangan untk semua pecinta sepak bola. Dalam waktu singkat dia menjadi topik obrolan sebagai pria yang ‘menyelamatkan kota’ sebagaimana diperkenalkan pada sebuah acara publik. Bahkan pembenci Beitar pun ramah terhadapnya.
Selama ini, Guma terlibat perselisihan hukum yang pahit dengan pamannya soal kesepakatan bagi hasil ‘durian runtuh’ yang didapatkan Encana. Guma menuntut bagian dari $2 miliar yang diterima Kaplan dan Kaplan membantah dengan menyatakan Guma telah menyalahgunakan modal perusahaan. Guma kemudian melanjutkan belanja real estat di kota – penthouse besar di Mamilla dengan pemandangan Kota Tua yang menakjubkan, dan sebuah flat dengan panorama Tembok Ratapan yang menakjubkan adalah aset bintang. Tempat di kawasan Yahudi di Kota Tua adalah kursi depan salah satu tempat terpenting di bumi dan dia memiliki bendera Beitar di teras rumah untuk membuktikannya.
‘Bagaimana menurutmu, bahwa aku akan berada di baris 56 atau semacamnya? Ini seperti kursi VIP. Saya ingin memiliki kursi ini jika ada sesuatu terjadi. Saya berdoa dan berharap bahwa saya akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian membangun [kuil] bersama dengan seluruh bangsa atau melihatnya jatuh dari langit,’ katanya kepada seorang reporter.
“Mengapa kamu tidak tinggal di sini?” reporter perempuan itu bertanya.
“Anda harus mencoba dan tinggal di sini selama seminggu, dan ketika Anda mulai berbicara dengan langit-langit rumah, Anda akan mengerti mengapa. Ketika langit-langit rumah mulai berbicara kembali, Anda akan mengerti mengapa – ini bukan tempat yang Anda ingin tinggal terlalu lama. Tempat ini membuat saya takut.”
Yang menyedihkan, itu bukan lelucon atau hiperbola. Langit-langit rumah berbicara dengan Guma, seperti halnya gang-gang berbatu di Kota Tua, para nabi dari Alkitab, raja-raja Kerajaan Israel dan 3.000 tahun sejarah. Begitu juga obat-obatan, manipulasi, kepentingan dan pertempuran di pengadilan. Guma tidak punya kesempatan. Hanya butuh enam bulan baginya untuk tak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan.
Dia mengatakan kepada wartawan surat kabar lokal Kol Ha’ir pada Januari 2010, bahwa telah membebaskan Gilad Shalit, seorang tentara Israel yang disandera di Gaza. “Saya melakukannya untuk membuktikan bahwa saya bisa memasuki Gaza dan keluar hidup-hidup dan Shalit bisa keluar hidup-hidup juga,’ katanya. “Dia [Shalit] mengatakan, ingin aku memberitahu keluarganya betapa dia mencintai mereka dan Israel, dan dia berharap penyanderaan ini segera berakhir.”
Hari berikutnya Guma ditempatkan di Pusat Kesehatan Mental Abarbanel di Bat Yam, tepat di selatan Jaffa. Koran-koran olahraga punya obyek sasaran, tertawa dan mengolok-olok seorang pria yang tengah mengalami kehancuran secara publik dengan kurang empatik dan kekurangsopanan yang mengejutkan..
Setelah pulih di Abarbanel, Guma kembali ke Florida untuk membangun kembali hidupnya. Dia memutuskan hubungannya dengan Beitar dan organisasi Israel lainnya. Namun, pada 2011 Guma mengumumkan pembelian saham mayoritas tim bola basket Hapoel Jerusalem yang dua tahun sebelumnya sudah menerima donasi $1,5 juta darinya.
Pada 19 Juni 2012 Guma melepaskan kapal pesiar 28 meter miliknya, TT Sion, dari tambatannya. Menurut Penjaga Pantai AS, sinyal GPS menunjukkan kapal itu berlayar ke timur laut sebelum tiba-tiba berhenti, lalu berbalik dan kembali ke pantai. Guma telah pergi; ponsel dan dompetnya ditemukan di atas kapal.
Beberapa waktu kemudian kebenaran terungkap. Investigasi yang mengagumkan oleh Nir Shahak untuk TV Uvda menunjukkan betapa Guma telah diperlakukan dan dilecehkan dengan begitu buruk di Yerusalem. Menderita gangguan bipolar sejak usia muda, dia bertindak secara adil dan sesuai aturan di sebuah kota yang kejam. Segera setelah kedatangannya, banyak orang yang sadar bahwa ada orang kaya baru di kota yang tidak berhati-hati dengan uangnya. Dia menjadi sasaran harian para rabi dan pengumpul sumbangan dan, dalam banyak kasus, mereka tidak meninggalkan rumah Guma dengan tangan kosong.
Kedermawanan Guma antara lain berupa pemberian $3 juta kepada politisi sayap kanan dan Yeshiva militan (lembaga pendidikan Yahudi), dan $175.000 kepada seorang rabi ekstrem yang ingin membangun kembali Kuil Yahudi dan memimpin sekelompok umat bersiap-siap untuk hari besar. Beberapa pihak merasa bersalah memperoleh uang dengan memanfaatkan orang dengan kondisi seperti Guma, tapi sebagian besar tidak peduli. Hal itu dianggap aji mumpung.
“Saya meninggalkan Israel dengan rasa yang rasa sangat tidak enak di mulut saya,” kata Guma kepada Leah Stern, seorang teman keluarga, pada 2012. ‘Saya sangat kecewa. Saya memberikan hati saya, saya memberikan rekening bank saya. Saya ingin membuat kehidupan di sana dan ketika saya kehilangan kendali semua memunggungi saya.”
Lebih buruk dari itu, organisasi kejahatan mencoba menipu Guma. Dia disuplai narkoba untuk membuatnya tidak stabil dan mendorongnya lepas kendali. Dia bahkan terkena apa yang disebut gaslight, yakni sebuah bentuk kondisi manipulasi psikologis yang mana pelaku pelecehan mencoba untuk menumbuhkan keraguan diri dan kebingungan dalam pikiran korbannya.
Sebuah tim detektif yang mengikutinya siang dan malam membuat Guma mengalami delusi paranoid. Para penjahat mencoba untuk mentransfer uang dari rekening banknya tapi dihentikan oleh petugas yang waspada pada detik akhir.
Legenda indah tentang ‘oleh’ (sebutan imigran ke Israel) malah merupakan kisah horor tentang korban yang tak berdaya. Rekaman pidatonya ‘March of the Living’ mengungkapkan kondisi mentalnya sebelum dia mengambil alih Beitar. Dia di situs Holocaust di Polandia, berteriak, “Tanpa Allah Israel kita tidak ada! Seberapa menyedihkan itu? (Kamp kematian) ini adalah di mana kita berada tanpa Tuhan Israel.”
Dan kemudian ada Beitar. Cinta itu tulus, tapi itu narkoba jenis yang lain. Di mana pun berjalan, Guma disanjung-sanjung soal betapa hebat dan dicintainya dia, bagaimana dia telah menyelamatkan klub itu, bahwa dia bukan warga biasa. Beitar itu adalah tim negeri, bahwa ada panggilan baginya untuk memimpin Beitar di antara sebangsa setanah air,bahwa dia telah dipilih untuk peran itu. Tidak heran ketika dia menggunakan narkoba di depan umum dan seorang teman yang peduli menegurnya, dia berkata, “saya membeli Beitar. Tunjukkan pada saya satu polisi yang berani menangkap saya di depan para penggemar.”
Menurut keputusan pengadilan Florida pada 2010, “Psikosis Guma Aguiar terwujud sendiri dalam waham kebesaran dan delusi paranoid. Pada musim semi 2008, Aguiar mengungkapkan keyakinannya bahwa dia adalah Mesias atau bisa jadi Mesias. Sehubungan dengan delusi paranoidnya, Aguiar telah menyatakan pada beberapa kesempatan, bahwa Kaplan mencoba membunuhnya. Aguiar percaya bahwa dia diracun, punggungnya ditembak dari helikopter, ada penembak jitu yang mengikutinya dan staf medis di sebuah rumah sakit Israel menyuntikkan racun untuk membunuhnya. Gangguan bipolar Aguiar pertama kali muncul pada 1997 ketika dia dinyatakan Baker Acted atau ditahan paksa sesuai hukum negara Florida di rumah sakit jiwa selama kurang lebih 12 hari. Saat itu, Aguiar berusia 19 tahun.”
Yang paling menarik, dokumen-dokumen itu mengklaim, ‘Aguiar mengalami awal episode kegilaan lain di pertengahan Juni 2009 dan masih belum pulih dari episode ini. Dari sekitar Juni 2009 hingga Januari 2010, Aguiar juga mengidap psikotik.’ Dinyatakan juga bahwa Aguiar menyalahgunakan ‘alkohol, ganja, Xanax [obat anti-kecemasan], Ambien [pil tidur], steroid anabolik, dan OxyContin [sebuah candu].’
Misi penyelamatan Shalit bukanlah khayalan melainkan sebuah tindakan pura-pura yang dimainkan oleh pengawalnya yang tidak punya pilihan. Mereka mengantarnya ke Ashkelon, dekat perbatasan Gaza, dan menggelar seluruh lelucon yang menyayat hati untuk Guma. ‘Dia adalah hewan yang terluka dan ketika hewan itu terluka, burung gagak datang,’ kata salah satu pengawalnya.
Guma tidak pernah terlihat lagi. Bisa jadi bunuh diri, kecelakaan, pembunuhan atau memalsukan kematiannya sendiri dan mulai hidup kembali jauh dari Florida atau Yerusalem. Ada desas-desus bahwa dia mungkin pergi ke Belanda, di mana dia memiliki keluarga dan teman-teman. Pada 2018 sebuah rumor beredar di Israel, menyebar melalui WhatsApp: ‘Guma Aguiar, yang pernah menjadi ketua Beitar Jerusalem dan dilaporkan tenggelam di danau dekat rumahnya di Amerika Serikat, masih hidup dan ditemukan di sebuah rumah sakit jiwa di Dubai. Dia saat ini dalam perjalanan kembali ke AS bersama keluarganya dalam kondisi baik dan begitu dia mendarat dia akan ditanyai tentang menghilangnya dia selama ini.
Guma Aguiar dinyatakan meninggal oleh hakim Florida pada Januari 2015 atas permintaan istri dan ibunya. Semua perselisihan hukum keluarga yang buruk antara ibu, janda dan pamannya dianggap selesai dan hanya kenangan tentang suami yang penuh kasih, ayah dan seorang fans sepak bola yang tersisa.
“Dia pria yang brilian,” kata Itzik Kornfien, Ketua Beitar saat itu. “Dia mengerti dengan sangat cepat apa sedang terjadi di klub ini. Biasanya, dibutuhkan berbulan-bulan bagi beberapa orang dan sebagian tidak mengerti, tapi dia mengerti segalanya, termasuk masalah keuangan, dan itu mengubahnya. Tapi ketika seorang pemuda yang kaya raya dipanggul ke mana-mana oleh para fans, ketika seluruh stadion meneriakkan namanya, itu berpengaruh. Bahkan terhadap pebisnis yang berpengalaman sekalipun. Sulit untuk menghentikan dan mengabaikannya. Menyenangkan bekerja dengannya dan ide-idenya benar sampai masalah muncul.”
Ditanyai situs berita Walla! soal apakah Guma benar-benar telah mati, Kornfien menjawab, “Tentu saja. Dia adalah pencari sensasi yang sembrono. Dia membawa saya dan teman-teman untuk berputar-putar dengan kapal pesiarnya dalam pengalaman yang tak terlupakan. Dia berlayar dengan kecepatan penuh, mengemudikan kapal itu sendiri. Pada suatu waktu kapal pesiar itu menabrak dan rusak. Kami semua mengalami memar. Dia juga tidak bertanggung jawab di darat. Mengemudi 100 kilometer per jam di jalan kecil dengan anaknya yang masih kecil di pangkuannya, ngebut dan tertawa.”
Guma adalah salah satu dari banyak orang yang terjangkit ‘Sindrom Yerusalem’. Dulu disebut ‘Demam Yerusalem’, tapi pada 1930-an fenomena itu diakui sebagai sindrom. Ini adalah sekelompok fenomena mental yang melibatkan kehadiran maupun ide obsesif bertema agama, delusi atau pengalaman seperti psikosis yang dipicu oleh kunjungan ke kota Yerusalem. Penyakit ini tidak endemik untuk satu agama saja atau denominasi tetapi telah menjangkiti orang Yahudi, Kristen dan Muslim dari berbagai latar belakang. Setiap tahun ada sepuluh turis dirujuk ke institut kesehatan mental setempat karena efek dari sindrom ini. Ada juga subtipe untuk sindrom: mereka yang datang dengan ide magis soal kekuatan penyembuhan Yerusalem.
“Selama bertahun-tahun kami percaya bahwa orang-orang datang ke Yerusalem dan edan di sini,” kata Dr Moshe Kalian, psikiater regional, dalam sebuah wawancara dengan koran Israel Haaretz. “… ada sesuatu tentang kota ini yang membuat mereka menjadi gila di sini, tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa mereka datang ke sini dengan sejarah masalah mental dan Yerusalem adalah tahap di mana mereka memainkan peran besarnya.”
Biasanya mereka dirujuk ke Kfar Shaul, pusat kesehatan mental di Yerusalem Barat, yang dibangun di atas reruntuhan Dir Yassin, sebuah desa Arab yang hancur dalam perang 1948. Biasanya setelah masa rawat inap yang singkat, pasien bebas untuk kembali ke rumah mereka. Itu telah mempengaruhi pengunjung seperti Nikolai Gogol, dan Homer Simpson, ketika keluarga kuning yang terkenal itu mengunjungi kota, juga banyak pengunjung biasa. Tapi mungkin pada tingkat yang lebih rendah sindrom telah mempengaruhi para pemimpin kota.
Guma adalah catatan kaki yang tragis dalam kekayaan sejarah Yerusalem dan Beitar, tetapi dia mengungkapkan sesuatu yang mendalam tentang lingkungan ini. Jika Anda berbaris melalui gerbang kota, mengklaim Anda adalah Mesias, maka itu akan berakhir dengan air mata karena Yerushalmim dapat melihat kepalsuan. Ketika Anda berpikir Anda adalah suara sejarah, pemimpin rakyat, pelindung Yerusalem, kemungkinan besar Anda akan kehilangan kontak dengan kenyataan cepat atau lambat. Akan ada cukup banyak orang yang akan membuat Anda berpikir Anda seperti itu tetapi, pada akhirnya, kenyataan akan menyusul Anda.
Terbawa perasaan bukan hal yang aneh dalam bisnis sepak bola, tapi itu terjadi di Beitar berulang kali. Kota, status klub, penggemar, dan kontak terus-menerus dengan pemilik membuat klub rentan terhadap sindrom. Mungkin ada ‘Sindrom Beitar Yerusalem’. [wir]






