Ponorogo (beritajatim.com) – Siswa-siswi di SDN Nongkodono Kecamatan Kauman berharap, kerusakan atap di sekolahnya segera diperbaiki. Perbaikan harus segera dilakukan, supaya kegiatan belajar mengajar di sekolah negeri tersebut bisa aman dan nyaman.
Setidaknya, itulah yang diutarakan oleh Hasna Rizky Hermawati, siswi kelas 6 di SDN Nongkodono. Dia tidak ingin kejadian robohnya atap salah satu ruang kelas di sekolahnya itu kembali terjadi. “Nanti kalau sewaktu-waktu roboh kan serem. Kan pas belajar tiba-tiba roboh, bahaya,” kata siswi berumur 11 tahun itu.
Hasna kembali menegaskan lagi, bangunan sekolah yang roboh itu untuk segera diperbaiki lagi. Supaya kelasnya jadi lebih baik lagi dan nyaman untuk belajar. Meski keadaan sudah ditutup terpal, menurutnya masih tidak nyaman. Sebab, saat sudah siang, di dalam ruang kelas yang ditutup terpal rasanya panas. “Siang panas, kan terpal. Sangat terganggu tidak nyaman kalau belajar keadaannya seperti ini,” pungkas Hasna.
Diberitakan sebelumnya, seolah tidak ada habisnya, sekolah dengan keadaan rusak kembali ditemukan di Kabupaten Ponorogo. Setelah beberapa hari lalu atap teras di SDN 2 Karangpatihan Kecamatan Pulung roboh, kali ini atap roboh juga ditemukan di SDN Nongkodono di Kecamatan Kauman. Atap di dua ruangan untuk kelas 4 dan 5 roboh. Sehingga pihak sekolah menutupi dua ruangan itu dengan terpal.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sekolah-roboh”]
Kepala SDN Nongkodono Sutrisno mengungkapkan bahwa memang rangka atap di dua ruangan itu, atapnya ada yang sudah lapuk. Kondisi itu juga pantau oleh pihak pemerintah desa (pemdes) setempat dan komite sekolah. Hasil pemantauan itu, mereka sepakat untuk menurunkan gentengnya, biar aman. “Setelah gentengnya diturunkan, ternyata rangka kayu atapnya sudah rusak. Sehingga ambrol jatuh sendiri,” kata Sutrisno.
Setelah robohan atap itu dibersihkan, pihak sekolah menutupnya dengan terpal. Meski tidak dibuat kegiatan belajar mengajar, sesekali ruangan yang dipasangi terpal itu juga masih dipakai kegiatan lainnya.
“Setelah robohan atap itu dibersihkan, kita inisiatif untuk ditutupi dengan terpal. Soalnya ada beberapa kegiatan yang dilakukan di ruang tersebut. Misalnya untuk salat dhuha atau kegiatan lainnya,” katanya.
Sutrisno menambahkan bahwa tanda-tanda kerusakan sudah terlihat sejak tahun 2021 lalu. Rangka atap sudah kelihatan melengkung turun. Sehingga sekitar sebulan yang lalu, pihak sekolah memutuskan untuk mengosongkan ruangan tersebut. Siswa-siswi dipindah ke ruang yang lain. Dia menyebutkan, dua ruangan itu, terakhir kali di rehab pada tahun 2008 lalu. Saat itu, temboknya ditinggikan dan atapnya juga diganti.
“Saya sudah lapor kondisi 2 ruangan itu kepada Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo. Pertama saat ada tanda-tanda rusak itu, dan yang terakhir saat atapnya roboh itu. Kita laporkan secara tertulis,” pungkasnya. (end/kun)






