Surabaya (beritajatim.com) – Leadership adalah karakter kepemimpinan yang harus dimiliki setiap orang. Setidaknya leadership harus diterapkan kepada diri sendiri.
Ada banyak pertimbangan mengapa kamu harus memulai belajar agar terlihat sebagai seorang pemimpin. Bukan hanya ingin memenuhi ekspektasi orang lain, lebih dari itu belajar sifat kepemimpinan dapat mendukung karirmu baik di perusahaan, organisasi, maupun untuk alasan memperbaiki kualitas hidup.
Simak tiga cara mudah mengembangkan karakter leadership agar dapat menjadi seorang pemimpin berikut ini.
1. Coba mencari akar masalah yang dihadapi, bukan terburu-buru menyelesaikannya
Ketika ada sebuah masalah, sebagian besar orang cenderung ingin segera menyelesaikannya. Cobalah untuk berhati-hati menyelesaikannya dengan mencari akar permasalahan terlebih dahulu.
Hal ini dapat dimulai dengan mencoba percaya diri untuk mengakui kegagalan, yang mana kebanyakan orang akan menghindarinya. Langkah selanjutnya, cobalah mencari cara untuk memperbaiki kesalahan dan memikirkan kembali proses yang akan ditempuh agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi.
“Cari pola masalah dan tantangan yang kemungkinan dapat terulang kembali dan memeras otak anda untuk mencari solusinya,” Lisa Earle McLeod kemudian menambahkan. “Hal ini akan menyelamatkanmu dari jatuh ke dalam lubang yang sama berulang kali.”
2. Ketika ada yang salah, bicara dengan jujur, tanpa menyalahkan.
Ada perbedaan besar antara berbicara mengenai suatu kebenaran dengan berbicara hanya untuk menyalahkan. Berbicara kebenaran berarti menjelaskan apa terjadi berdasarkan fakta, dalam upaya untuk memperbaikinya. Sedangkan menyalahkan dilakukan untuk menghindari tanggung jawab, yang justru akan semakin jauh dari upaya pemecahan masalah.
“Saya ingin berbagi dengan Anda salah satu kutipan favorit saya, dan itu membuatku bertahan dengan baik dalam menghadapi kesulitan,” kata Lisa Earle McLeod. “Edwin Friedman berkata, Dalam situasi apa pun, orang yang paling akurat menggambarkan realitas, tanpa menyalahkan seseorang atau keadaan. Dia akan muncul sebagai pemimpin, baik ditunjuk ataupun tidak. Selama masa-masa sulit, Anda harus berpikir seperti pemimpin.”
Untuk mendapatkan sebuah kebenaran, kamu harus aktif mendengarkan dan telusuri permasalahan yang ada. Dengan melakukan hal ini, kamu dapat dengan tenang menjelaskan di mana letak kesalahannya, dan kemudian menentukan apa yang harus diperbaiki.
[berita-terkait number=”3″ tag=”cara”]
3. Bagikan Passion kamu
Untuk poin yang terakhir, McLeod menyarankan untuk jangan jadi robot! Dia berharap semoga banyak orang bekerja atau melakukan aktivitas organisasi sesuai dengan apa yang menjadi passion-nya. Kemudian jangan takut untuk berbagi apa yang kamu sukai kepada orang lain.
Contohnya, daripada selalu menjadi bayang-bayang seseorang atau suatu produk, lebih baik kamu memulai untuk bercerita. Jika kamu memulai project atau memiliki produk baru dan berhasil meraup untung atau menaikkan penjualan, jangan hanya menyoroti angka yang diperoleh. Ceritakan kisah dibalik perjuangan untuk mencapai hal itu atau ceritakan mengapa project atau produk itu membuat hidup orang lain menjadi lebih baik.
Untuk mengilustrasikan penjelasannya, McLeod memberikan contoh lain, misalkan ada orang yang bekerja untuk perusahaan distribusi pipa dan sedang mencari rekan baru untuk projectnya. Dari dua tipe jawaban ini, mana kira-kira rekan yang tepat?
“Pelanggan kami bergantung pada kami untuk menyelesaikan pesanan ini tepat waktu.” Atau,
“Saya ingat pernah mendengar tentang Pak Ismail dan keluarganya di Washington. Mereka memiliki anak kembar berusia 6 minggu ketika rumah mereka kebanjiran dan Bu Salma, istrinya, sangat gugup mengenai keadaan dan kelembaban di rumah mereka. Mereka akhirnya hidup di ruang bawah tanah sambil menunggu rumah mereka untuk diperbaiki.
[berita-terkait number=”3″ tag=”film”]
Dengan bayi dan semua barang mereka di ruangan kecil yang sempit itu, sangat terasa betapa mereka dalam kesulitan, untung kami bisa memperbaiki pipa rumah mereka tepat waktu. Dan rumah mereka sudah menjadi tempat yang aman untuk ditinggali. Sekarang ada ribuan keluarga seperti Pak Ismail yang menggantungkan permasalahan itu kepada kami dan berharap menyelesaikannya dengan tepat waktu.”
“Jika saya jadi anda, Jelas saya memilih yang kedua. Mereka memiliki hasrat dalam pekerjaan dan kemudian membaginya kepada orang lain. Hal itu terlihat jauh seperti seorang pemimpin,” kata McLeod.
Itulah cara mengembangkan karakter leadership dalam organisasi. Jika sudah paham, ayo mulai sekarang belajar menerapkannya sedikit demi sedikit agar bisa menjadi seorang pemimpin. (Kai/ian)






