Mojokerto (beritajatim.com) – Home industri yang terletak di Kepuhanyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto ini memanfaatkan limbah celana jeans untuk didaur ulang menjadi sepatu dan tas. Upject merupakan milik kumpulan pegiat lingkungan di Mojokerto.
Salah satu pendiri Upject, Liana Nirawati mengatakan, para pendiri Upject merupakan kumpulan pegiat lingkungan yang ada di Kabupaten Mojokerto. Mereka memulai mendaur ulang limbah celana jeans sejak bulan Desember tahun 2021 lalu. “Kami punya keresahan yang sama,” ungkapnya, Kamis (4/8/2022).
Masih kata Liana, para pengiat lingkungan di Mojokerto ini resah akan banyaknya limbah dari hasil fast fashion yakni bahan jeans. Limbah jeans tersebut dinilai masih bisa dimanfaatkan lagi sehingga mereka melakukan survey di beberapa tempat maupun internet terkait daur ulang jeans.
“Kebanyakan dari mereka mengolah limbah jeans menjadi tas. Karena kita sendiri di Mojokerto potensi bikin sepatu itu besar, ya udah kita bikin sepatu saja yang menang sudah khasnya dari Mojokerto terkenal sebagai produsen sepatu. Dari situ maka produk utama kita adalah sepatu,” jelasnya.

Karana melihat potensi penjualan sepatu di Mojokerto di besar, akhirnya mereka sepakat membuat sepatu dari daur ulang jeans. Namun hingga setengah tahun berjalan, produk Upject berkembang ke produk lainnya. Seperti tas dan topi. Mereka pun memanfaatkan media sosial (medsos) sebagai media promosi.
“Untuk pemasarannya secara online kita masih di Instagram saja, untuk offlinenya di outlet atau kita ikut event-event. Kalau harga, untuk sepatu mulai Rp180 ribu sampai 300 ribu. Sedangkan tas, Rp125 sampai Rp350 ribu, kalau topinya Rp80 ribu saja,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kabupaten-mojokerto”]
Karena masih tergolong baru di Mojokerto, masih kata Liana, pemesan produk Upject paling jauh masih jangkauan lingkup Pulau Jawa. Ia mengaku tidak kesulitan terkait bahan baku jeans karena sangat melimpah karena masih mengedepankan bahan baku dari Mojokerto sendiri.
“Jadi masih belum open donasi, masih belum menerima bahan dari luar. Dari Mojokerto saja masih nolak-nolak. Customer juga bisa membawa celana jeans sendiri untuk di kustom. Tentu harganya kalau kustom lebih murah, mungkin selisih Rp10 sampai Rp 20 ribu,” tegasnya. [tin/ted]






