Surabaya (beritajatim.com) – Konon, malam suro memang dikenal oleh masyarakat terutama orang Jawa cukup sakral. Bahkan sudah identik dengan hal-hal mistis, gaib, dan sejenisnya.
Namun, ternyata tak banyak orang yang tahu apa alasannya. Sehingga tak jarang jika mereka kerap bertanya-tanya, tapi tetap saja tidak menemukan jawabannya. Seolah ini masih menjadi misteri tersendiri.
Sebenarnya malam satu suro atau satu Muharram merupakan malam tahun baru dalam kalender Islam. Jika umumnya tahun baru identik dengan perayaan yang meriah, justru berbeda dengan malam tahun baru yang satu ini.
Di mana banyak orang yang beranggapan bahwa malam satu Suro merupakan hari rayanya makhluk-makhluk tak kasat mata atau gaib. Sehingga mereka banyak yang keluar dari tempat persinggahannya.
Konon pada malam tersebut, arwah leluhur juga akan datang. Bahkan, roh-roh tumbal pesugihan juga akan dibebaskan. Hal ini dianggap sebagai imbalan dari pengabdiannya selama setahun penuh.
Sebagian orang memang sangat mempercayai hal tersebut. Tak ayal jika mungkin sebagian masyarakat beranggapan bahwa bulan Suro merupakan bulan yang paling buruk. Karena penuh dengan kesialan dan petaka.
[berita-terkait number=”3″ tag=”ritual”]
Sehingga banyak masyarakat yang lebih berhati-hati dan sebisa mungkin menghindari hal-hal tertentu. Beberapa di antaranya dengan tidak melakukan aktivitas bepergian atau tidak menggelar acara pernikahan pada bulan tersebut.
Meski begitu dalam kepercayaan orang Jawa atau Kejawen, hal-hal buruk dan negatif tersebut sebenarnya dapat dicegah. Pencegahan inilah yang kemudian menjadi tradisi masyarakat setempat, seperti mencuci benda pustaka, membersihkan diri di tempat suci dan sakral, atau semua yang berkaitan dengan ruwatan (pembersihan).
(Fyi/ian)






