Sidoarjo (beritajatim.com) – Toleransi terus menjadi topik diskusi, seminar dan lokarkarya. Termasuk tema diskusi yang diadakan oleh Komunitas Seni Budaya Brang Wetan di Hotel Arayana Trawas Mojokerto Selasa 26 sampai Rabu 27 Juli 2022.
“Kalau kita diperlakukan intoleran oleh orang lain maka yang menjadi tantangan adalah apakah kita juga akan bersikap intoleran terhadap orang lain. Apakah kalau kita pernah ditindas juga akan membalas menindas?”
Pertanyaan itu disampaikan Aan Anshori pegiat Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) dalam acara lokakarya tersebut. “Jawaban dari pertanyaan diatas akan menjadi indikator apakah kita tergolong orang yang toleran ataukah intoleran,” kata Aan Ansori.
Aan yang menjadi pegiat Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) menyampaikan, toleransi harus tetap dijaga selamanya. “Toleransi tetap dijaga oleh semuanya,” jawab Aan.
Menurut Aan Anshori, toleransi adalah kesediaan menerima seluruh pengalaman hidup dan tradisi seseorang yang berbeda identitas. “Toleransi adalah juga memperlakukan orang beragama, beretnis, bersuku, beridentitas lain sebagaimana yang ingin diperlakukan,” paparnya.
Aan menjelaskan, ada sejumlah contoh intoleransi yang terjadi selama ini. Seperti rumah ibadah ditolak, enggan mengucapkan selamat hari raya agama tertentu, memaksakan seragam sekolah agama tertentu dan beribadah secara berisik. “Menolak menerima atau memberi kebaikan pada pemeluk agama atau etnis tertentu dan hanya mau berteman dengan seagama, seetnis juga termasuk intoleransi.
Aan yang juga menjadi pengajar Pancasila dan Religion Universitas Ciputra Surabaya itu menjelaskan, bahwa sikap intoleran disebabkan karena tidak pernah menjadi korban intoleransi. Jika pun pernah, kadang gagal mengambil hikmah darinya.
“Karena itu semakin sering kita nongkrong dengan orang yang berbeda maka akan kita akan semakin bersikap toleran,” tandas Aan.
Ia juga menyebut, jangan mengaku seorang muslim sejati kalau temannya orang Islam semua. “Jangan mengaku nasionalis kalau temannya hanya berasal dari satu suku yang sama. Intoleransi muncul karena kita tidak saling mengenal,” urai Aan.
Karena itu, sambung Aan rasa toleransi bagaimana selalui disemaikan bibit toleransi kepada anak-anak sejak sekolah dasar. Betapa mereka yang semula canggung satu sama lain menjadi akrab dan saling memahami perbedaan satu sama lain.
Salah satu peserta, Cindy Debora yang pernah menjadi pemenang pertama Duta Toleransi tingkat SMA Sidoarjo berpendapat, bahwa toleransi bukan sekadar saling menghormati tetapi sikap tetap menghormati orang lain, meskipun orang lain berbeda dan bersikap intoleran.
Sementara itu, Nadia Bafaqih narasumer lainnya menekankan pentingnya pelajar dan pemuda terlibat aktif untuk mewarnai hubungan relasi-relasi keagamaan dan sosial yang ada dalam masyarakat. “Bahwasanya sangat penting bagi pelajar dan pemuda untuk membumikan nilai-nilai kesetaraan gender dengan strategi penuh damai tanpa diskriminasi,” terangnya.
Acara lokakarya ini akan diteruskan dengan Pelatihan Kampanye Toleransi Melalui Media Sosial” hingga Kamis siang (28/7/2022). (isa/kun)







