Peta politik jelang Pilpres 2024 sudah mulai terbaca. Figur sebagai kandidat calon presiden telah bermunculan. Nama-nama yang kian akrab di perbincangan publik: Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Prabowo Subianto. Tiga figur yang senantiasa merajai elektabilitas hasil survei.
Waktunya coblosan tinggal kurang lebih 2 tahun. Bisa dibilang dekat bisa pula disebut jauh. Melihat stabilitas ketiga figur teratas dan tampak sulitnya muncul figur lain untuk menyaingi, waktu 2 tahun terasa mepet. Tetapi bahwa Ganjar belum tentu mendapat rekomendasi dari PDIP dan Anies belum dilamar partai manapun, pertarungan konkret tampaknya masih teramat jauh.
Banyak hal masih mungkin terjadi. Mungkin pula akan ada kejutan di luar prediksi. Mungkin saja terdapat detail-detail yang kecil namun punya pengaruh signifikan. Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat bisa dijadikan pelajaran. Keempat pilgub tersebut menghadirkan beragam kejutan.
Pilgub DKI Jakarta tahun 2017. Diikuti 3 pasangan yang terdiri dari Anies Baswedan – Sandiaga Uno, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) – Sylviana Murni. Hampir semua survei semula mengunggulkan pasangan Ahok – Djarot.
Kejutan terjadi, Anies Baswedan – Sandiaga Uno yang berhasil memenangi Pilgub DKI Jakarta. Peristiwa yang sangat signifikan melemahkan posisi Ahok – Djarot adalah kencangnya kasus SARA. Kasus yang berhembus masif di perbincangan media massa, media sosial, ranah hukum, dan demo berjilid-jilid.
Pilgub Jawa Tengah tahun 2013. PDI Perjuangan sejak awal sudah memastikan tidak mengusung kembali petahana Bibit Waluyo. Figur yang mengemuka adalah Rustriningsih. Kader PDIP yang menjabat Wakil Gubernur Jateng dan pernah sukses menjadi Bupati Kebumen selama 2 periode. Kejutan terjadi, rekomendasi DPP PDIP tidak jatuh ke Rustriningsih. Rekomendasi diberikan kepada Ganjar Pranowo – Heru Sudjatmiko. Gejolak di internal PDIP sempat terjadi.
Rustriningsih sendiri tidak menutupi kekecewaannya. “Proses rekrutmen sebagian calon gubernur lebih merupakan pilihan elit-elit politik yang bersifat pragmatis, berlandaskan sikap suka atau tidak suka serta mengesampingkan aspirasi konstituen dan masyarakat umum,” kata Rustriningsih waktu itu. Toh akhirnya, Ganjar Pranowo berhasil menang.
Pilgub Jawa Barat tahun 2018. Santer terdengar PDIP bakal mengusung Ridwan Kamil. Keduanya memang memiliki hubungan baik. Ridwan Kamil pernah dipercaya untuk menjadi narasumber dalam Sekolah Kader PDIP. Posisinya juga sama-sama bagus. PDIP bermodal 20 kursi di DPRD Jabar sehingga bisa langsung mengusung calon tanpa harus berkoalisi. Sedangkan Ridwan Kamil hampir selalu memuncaki hasil survei.
Kejutan terjadi menjelang pendaftaran calon ke KPU Jabar. Rekomendasi dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri ternyata bukan ke Ridwan Kamil. Rekomendasi jatuh kepada pasangan Tubagus Hasanuddin – Anton Charliyan. Ridwan Kamil sendiri akhirnya berpasangan dengan Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum dan berhasil meraup suara terbanyak.
Pilgub Jatim tahun 2018. PKB telah memastikan berkoalisi dengan PDIP. Kesepakatan tercapai, Ketum PKB Muhaimin Iskandar mengajukan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai bakal calon gubernur dan Megawati menugaskan Azwar Anas sebagai bakal calon gubernur. Anas dinilai sangat tepat untuk mendampingi Gus Ipul karena telah 2 periode sukses memimpin Kabupaten Banyuwangi.
Kejutan pun terjadi. Kurang 2 hari masa pendaftaran Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Jatim, Anas tiba-tiba mengundurkan diri. Dia mengembalikan surat penugasan kepada partai. Dalam perubahan peta politik yang cepat itu, PDIP akhirnya mengajukan Puti Guntur Soekarno untuk menggantikan Azwar Anas. Tetapi pasangan Gus Ipul – Puti lantas kalah suara dengan pasangan Khofifah Indar Parawansa – Emil Dardak.
Berkaca dari Pilgub DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur; kejutan punya pengaruh besar terhadap hasil. Kejutan mampu mengacaukan peta politik. Jika tanpa isu SARA, Ahok mungkin menang. Jika berpasangan dengan Azwar Anas, Gus Ipul mungkin menang. Jika mengusung Rustriningsih, PDIP bisa jadi kalah di Pilgub Jateng. Jika diusung PDIP, Ridwan Kamil bisa jadi gagal menjadi Gubernur Jabar.
Lalu kejutan apa yang bakal tersaji dalam Pilpres 2024?
[berita-terkait number=”5″ tag=”ribut-wijoto”]
Namanya kejutan tentu saja di luar prediksi, melenceng dari perkiraan banyak orang, bahkan tak masuk dalam perhitungan pakar politik. Apabila sesuai prediksi tentu bukanlah sebuah kejutan lagi.
Jika nanti PDIP mengajukan Puan Maharani atau Ganjar Pranowo, itu bukanlah sebuah kejutan. Saat ini pun, banyak kalangan telah memprediksinya. Atau misalnya PKS dan Partai Demokrat berkoalisi lalu mengusung pasangan Anies Baswedan – AHY, itu juga bukan kejutan. Antara PKS dan Demokrat sudah menjadi komunikasi secara intens, figur yang banyak dibicarakan untuk diusung memang Anies – AHY.
Pilpres 2024 masih berbulan-bulan lagi. Potensi kejutan sangat terbuka lebar. Dan kita tidak tahu, kejutan apa yang bakal terjadi. [but]






