Banyuwangi (beritajatim.com) – Budidaya maggot kini menjadi tren di kalangan masyarakat Banyuwangi. Tak terkecuali yang dilakukan oleh Bank Sampah di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi.
Lokasinya berada di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) 3R, Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi.
Di tempat ini, berderet sejumlah petak papan maggot. Pada setiap biopond terdapat berbagai ukuran maggot, mulai dari kecil, sedang hingga ukuran besar.
Budidaya Maggot mulai dikembangkan di tempat ini sejak beberapa bulan terakhir. Selain bernilai ekonomis, budidaya maggot ternyata seirama dengan tujuan Bank Sampah ini untuk membikin Banyuwangi lebih bersih.
Nggak percaya? Buktinya, maggot yang dibudidayakan di tempat ini terbukti mampu mengurangi 1 ton sampah organik lho. Alhasil, meskipun maggot dinilai menjijikkan, tapi juga cukup menjanjikan.
Selain itu, budidaya maggot ternyata juga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Jangkauan pasar maggot adalah peternak lele, peternak ayam hingga peternak ikan hias.
“Setiap hari kita bisa menghasilkan 75 – 100 kilo maggot, dengan harga per kilogramnya Rp 6 ribu – Rp 7 ribu. Bahkan kami masih kekurangan stok dari permintaan konsumen,” ungkap Koordinator Bank Sampah Banyuwangi, Agus Supriadi, Jumat (22/7/2022).
Setiap hari pihak pengelola memberikan makanan untuk kawanan maggot ini. Makanan itu berasal dari sampah organik rumah tangga.
Sampah yang menjadi makanan maggot hanya diletakkan begitu saja di atas biopond dan langsung diserbu oleh kawanan maggot. Maggot bergeliat dan berdesak-desakan untuk memperoleh makanan.
“Ini kami kembangkan untuk mengurangi sampah, utamanya sampah organik dapur (SOD). Kapasitas kami bisa 100 kilo maggot sehari dengan kapasitas pakan per harinya kurang lebih 1 ton sampah organik,” jelas Agus.
Maggot, kata Agus, hanya butuh makanan berupa sampah organik agar tumbuh. Selama seminggu, belatung yang dihasilkan dari telur lalat hitam (BSF) itu sudah siap panen.
“Dari pembibitan yakni baby maggot sampai nanti penjualan (panen), hanya membutuhkan waktu satu Minggu. Tergantung makanan itu sendiri,” kata Agus.
[berita-terkait number=”4″ tag=”budidaya-maggot”]
Maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik 2 sampai 5 kali bobot tubuhnya selama 24 jam. Satu kilogram maggot dapat menghabiskan 2 sampai 5 kilogram sampah organik per hari.
“Segerombolan maggot ini hanya membutuhkan kurang lebih 30 menit, sampah organik sudah bisa terurai,” imbuhnya.
Saat ini pihaknya tengah melakukan perluasan pengembangan budidaya maggot melalui mitra Bank Sampah, yang tersebar di sejumlah daerah di Banyuwangi.
“Kita kembangkan dengan beberapa mitra yang sudah ada. Mulai dari Banyuwangi Kota sampai Rogojampi dan Jajag. Itu tanpa modal, mereka kita berikan bibit secara gratis, melakukan pembesaran, mereka juga tidak kesulitan pemasaran. Karena kita yang membelinya,” pungkasnya (rin/ted)






