Surabaya (beritajatim.com) — Kabupaten Jombang, Provinsi Jatim telah melahirkan banyak tokoh nasional, khususnya dari komunitas santri Islam Tradisional (NU). Sebanyak empat pondok pesantren (pondok) yang berpengaruh di lingkungan komunitas Nahdlatul Ulama (NU) berasal dari Jombang: Pondok Tebuireng, Pondok Tambakberas, Pondok Denanyar, dan Pondok Darul Ulum Rejoso.
Banyak tokoh nasional di era pergerakan nasional sampai reformasi berasal dari Jombang. Sebut di antaranya KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU dan Pondok Tebuireng), KH Abdul Wahab Chasbullah (Pondok Tambakberas dan Rais Aam pertama PBNU), KH Bisri Syansuri (Pondok Denanyar dan Rais Aam kedua PBNU), KH A Wahid Hasyim (ayahanda KH Abdurrahman Wahid, pernah menjadi anggota BPUPKI, PPKI, dan mantan Menteri Agama), dan banyak tokoh lainnya.
Di era reformasi ada tiga serangkai tokoh nasional dari Jombang: KH Abdurrahman Wahid (NU), Prof Dr Nurcholis Majid (cendikiawan muslim dan mantan ketua umum HMI), dan Emha Ainun Najib (budayawan). Ketiga tokoh tersebut bersama tokoh nasional lain, seperti KH Ali Yafie (MUI dari Sulawesi Selatan), Prof Dr A Malik Fadjar (tokoh Muhammadiyah dan mantan Rektor UMM) , dan lainnya sempat memberikan masukan kepada Presiden Soeharto sebelum orang kuat rezim Orde Baru tersebut mengundurkan diri dari jabatannya. Jombang telah melahirkan banyak tokoh pergerakan nasional di era kemerdekaan maupun pascakemerdekaan.
Satu catatan histori penting tentang Jombang adalah sebagai titik pusat gerakan tarekat di Indonesia. Setidaknya ada tiga tarekat yang mengambil Jombang sebagai pusat kegiatan dan gerakan keagamaan yang diperjuangkannya. Pertama, tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang berpusat di Pondok Darul Ulum di Kecamatan Rejoso, Jombang. Kedua, tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang berpusat di Cukir dengan tokohnya KH Adlan Ali.
Dalam ilmu tarekat, KH Adlan Ali adalah murid (santri) KH Ramli Tamim yang merupakan pimpinan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Rejoso. Kiai Ramli Tamim adalah ayah KH Mustain Ramli, yang kemudian menjadi mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Rejoso sepeninggal ayahnya. Kiai Mustain menggeser pilihan politiknya dari Partai NU (PPP) kepada Golkar di Pemilu 1977. Ketiga, tarekat As Shiddiqiyah berpusat di Kecamatan Ploso Jombang yang dipimpin KH Muchtar Mu’thi.
Pada dasarnya tarekat sebagai suatu bentuk kegiatan sufi atau tasawuf merupakan kegiatan keagamaan murni yang tak ada kaitan langsung maupun tak langsung dengan aktifitas politik praktis. Tarekat tak ada relasinya dengan politik kekuasaan.
Di era Orde Baru Soeharto, lembaga dan gerakan tarekat yang memiliki jemaah (baca: massa) yang besar, dengan kepemimpinan bersifat kharismatik, dan pola relasi antara jemaah dengan kiai bersifat paternalistik dengan tingkat kepatuhan tinggi serta bersifat total, maka realitas sosiologis dan kultural tarekat tak dibiarkan lepas dari intervensi, pengaruh, dan jangkauan kebijakan dan kekuasaan politik Orde Baru.
Adanya pergeseran pilihan politik satu tarekat tertentu akibat langkah pendekatan dan kooptasi yang dilakukan negara di era Orde Baru. Hal itu mengakibatkan terjadinya fragmentasi sosial atas gerakan dan lembaga tarekat dimaksud.
Gerakan kelembagaan tarekat di Jombang yang semula tunggal di bawah payung dan pengaruh kuat tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Rejoso kemudian terbelah menjadi tarekat Cukir di bawah pimpinan KH Adlan Ali dan tarekat Kedinding Lor Surabaya di bawah pimpinan KH Utsman Al Ishaqi, yang merupakan murid atau santri KH Ramli Tamim dari Pondok Darul Ulum Jombang.
Tarekat Rejoso Jombang
Dari empat pondok besar di Jombang: Tebuireng, Tambakberas, dan Denanyar, Pondok Darul Ulum yang berada di Kecamatan Rejoso sejak semula istiqomah mengembangkan ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Pengembangan ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Pondok Rejoso berlangsung ketika lembaga pendidikan kaum santri Islam Tradisional itu dipimpin KH Khalil dan KH Tamim Irsyad. KH Khalil seringkali menimba ilmu ke Mekkah.
Selain tentu untuk berumrah dan haji, di Tanah Suci pimpinan Pondok Darul Ulum ini bertemu dengan guru tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah dari Madura bernama KH Ahmad Hasbullah, seorang kiai yang diberikan ijazah mursyid oleh KH Ahmad Khatib Sambas, pendiri tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah.
Dalam disertasi Mahmud Sujuthi di program S-3 Universitas Airlangga Surabaya, yang kemudian dibukukan dengan judul: Politik Tarekat: Hubungan Agama, Negara, dan Masyarakat (2001), antara lain disebutkan bahwa selama di Mekkah, Kiai Khalil berguru kepada Kiai Hasbullah.
Atas bimbingan kiai dari Madura tersebut, Kiai Khalil diperkenalkan kepada Kiai Ahmad Khatib. “Akhirnya, Kiai Khalil melakukan baiat kepada Kiai Ahmad Hasbullah dan mendapatkan kepercayaan sebagai guru tarekat atau mursyid.”
Mahmud Sujuthi, seorang intelektual muslim dari kalangan Islam Modernis (Muhammadiyah), yang pernah menjabat sebagai Kakanwil Departemen Agama (kini Kanwil Kementerian Agama) Jatim di tahun 1992-1996, menguraikan bahwa setelah dibaiat sebagai mursyid oleh gurunya di Tanah Suci, Kiai Khalil lantas mengajarkan dan mengembangkan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Pondok Darul Ulum dan masyarakat sekitar Kecamatan Rejoso, Jombang.
Sebelum wafat pada 1937, Kiai Khalil telah membaiat KH Ramli Tamin, adik iparnya, diberikan ijazah mursyid untuk meneruskan perjuangannya mengamalkan dan mengajarkan nilai-nilai religius tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Ijazah mursyid diberikan kepada Ramli Tamim, ayahanda KH Mustain Ramli, karena Kiai Ramli dinilai kapabel dan telah menguasai nilai dasar dan amalan ketarekatan.
Jasa KH Hasyim Asy’ari
Dalam konteks pengamanan pengamalan ajaran tarekat agar tak menyimpang dan atau mendistorsi nilai-nilai hakiki ajaran agama Islam, KH Ramli Tamim sebelum menerima ijazah mursyid dari kakak iparnya, KH Khalil, maka Kiai Ramli beberapa kali berkomunikasi dan beraudiensi dengan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Tebuireng dan ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU). Kiai Hasyim adalah guru sekaligus bekas mertua Kiai Ramli.
“Kiai Hasyim mengingatkan agar dalam mengamalkan tarekat tidak menyimpang dari ketentuan syariat. Karena itu, sebelum mengamalkan tarekat hendaknya seseorang belajar syariat secara benar,” tulis Mahmud Sujuthi dalam disertasinya.
Kiai Hasyim dikenal dengan ketinggian dan kedalaman ilmu agamanya, khususnya ilmu Hadits. Nasihat dan masukan yang diberikan Kiai Hasyim, tokoh agama yang pengaruhnya sangat kuat di Pulau Jawa dan Indonesia saat itu, sangat diperhatikan Kiai Ramli Tamim. Karena itu, menjadi tradisi dan kebiasaan di kalangan pengamal tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Rejoso sebelum melakukan khususiyah rabithah, upacara ritual tarekat, para santri dan pengamal tarekat mendengarkan pengajian tentang syariah yang diberikan kiai atau ustadh yang dinilai mumpuni dan ahli di bidangnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ainur-rohim”]
“Untuk membentengi pengamal tarekat dari amalan-amalan yang menyimpang, Kiai Hasyim Asy’ari menyusun sebuah risalah singkat yang sangat bagus, yang berjudul: Al-durar al muntasirah fi al-masaili at-tis’i asyarah (taburan permata yang indah, membahas Sembilan belas masalah), yang disusun dalam bentuk tanya jawab,” tambah Mahmud Sujuthi mengutip artikel yang ditulis Mansoer (1975).
Di era kepemimpinan KH Ramli Tamim inilah, jumlah jemaah dan pengamal tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Rejoso Jombang mengalami perkembangan sangat pesat. Jumlah jemaahnya tak hanya berasal dari Jombang. Banyak pengamal tarekat dari daerah lainnya di Jatim, termasuk Madura, bergabung dan mengamalkan nilai-nilai ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Rejoso.
Hal itu terjadi, karena Kiai Ramli Tamim memberikan kelonggaran bagi yang belum menguasai ilmu syariah atau yang ilmu syariahnya masih elementer dan bagi mereka yang usianya masih muda diizinkan mengikuti kegiatan tarekat. Menurut Kiai Ramli Tamim, lebih baik menjadi anggota atau pengamal tarekat dulu, kemudian diperbaiki sambil jalan. [air/bersambung]






