Surabaya (beritajatim.com) – Self-abandonment atau pengabaian diri bisa terjadi karena kebiasaan. Hal ini kemungkinan karena di masa lalunya ada faktor orang tua, keluarga, atau bahkan teman sepermainan yang sangat mempengaruhi kebutuhan emosionalnya.
Sehingga kemudian membentuk sikap atau kepribadian yang justru mengabaikan diri sendiri. Mungkin karena pengalaman diabaikan atau bahkan ditinggalkan. Sehingga orang-orang seperti ini kerap merasa bahwa dirinya tidak berharga dan tidak pantas dicintai.
Rasa cemas dan tak ingin ditinggalkan, lantas membuat seseorang jadi menekan perasaannya sendiri. Mengabaikan kebutuhan dan keinginan diri hanya karena tidak ingin lepas dan berharap mendapat pengakuan dari orang lain.
Akibatnya jika hal ini terus terjadi, maka seseorang akan mudah merasa stres, depresi, dan terganggunya hubungan sosial dengan orang lain. Untuk menghindari hal tersebut, maka ada baiknya segera kenali tanda-tanda bahwa kamu sedang mengalami self-abandonment, di antaranya;
Lebih mementingkan kebahagiaan orang lain
Membuat orang lain bahagia memang sesuatu hal yang positif. Bahkan bernilai pahala sedekah dalam ajaran agama. Namun, jika kebahagiaan orang lain membuatmu lantas mengabaikan kepentingan dan kebutuhan diri sendiri, itu juga tidak baik.
Mengiyakan segala hal
Orang dengan gejala self-abandonment juga kerap kali mengatakan ‘iya’ pada segala hal yang dikatakan orang lain. Padahal, sebenarnya ia sangat ingin mengatakan ‘tidak’, tapi lebih memilih menahannya.
Bertahan pada hubungan toxic
Satu hal yang juga sering terjadi ialah mempertahankan hubungan yang toxic. Di sisi lain mungkin mereka yang mengabaikan diri ingin keluar dari lingkaran tidak sehat tersebut. Namun di lain sisi, ia tidak ingin kehilangan seseorang yang dianggapnya berpengaruh bagi hidupnya. Terlebih ia juga tidak ingin mengecewakannya.
Menyangkal
Menyangkal juga salah satu tanda yang ditunjukkan oleh mereka yang mengalami self-abandonment. Ia kerap menekan perasaannya dan menyangkal jika dirinya bahagia dengan kondisi tersebut. Padahal, yang ada ia sebenarnya merasa tertekan, cemas, dan stres. (Fyi/ian)






