Jember (beritajatim.com) – Universitas Jember, perguruan tinggi negeri di Kabupaten Jember, Jawa Timur, baru memiliki 54 orang guru besar atau profesor dari 1.200 orang dosen yang aktif mengajar. Jumlah ini masih kurang ideal.
“Idealnya sebuah perguruan tinggi memiliki guru besar sebanyak sepuluh persen dari total jumlah dosen yang dimiliki,” kata Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna, sebagaimana dilansir Humas Universitas Jember, Senin (18/7/2022).
Iwan terus berusaha mendorong para dosen agar memenuhi syarat untuk mengajukan jabatan guru besar. “Di antaranya melalui program dana hibah akselerasi profesor melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat,” kata guru besar Fakultas Teknologi Pertanian ini.
Terbaru, ada tiga orang guru besar yang dikukuhkan dalam rapat senat terbuka di auditorium Universitas Jember, Kamis (14/7/2022). Mereka adalah Prof. Dr. Akhmad Haryono, M.Pd., guru besar di bidang ilmu Sosiolinguistik-Etnografi Komunikasi pada Fakultas Ilmu Budaya (FIB); Prof. Dr. Diah Yulisetiarini, M.Si., guru besar ilmu Manajemen Pemasaran di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB); dan Prof. Dr. Dra. Sri Astutik, M.Si., guru besar ilmu Pembelajaran Sains-Fisika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Jumlah ini akan bertambah satu lagi dalam waktu dekat, mengingat proses penetapannya sudah selesai. Selain itu, ada enam dosen yang tengah dalam proses pengajuan guru besar di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”universitas-jember”]
Iwan Taruna bangga dan gembira dengan pertambahan jumlah guru besar ini. Menurutnya, keberadaan para guru besar bakal menjadi motor penggerak Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus meningkatkan reputasi dan rekognisi sebuah lembaga pendidikan tinggi.
Iwan mengingatkan jabatan guru besar mengandung amanah dan tanggungjawab yang besar. “Jabatan profesor bukanlah akhir, tetapi justru awal baru sebab masyarakat kini menunggu kiprah mereka di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” katanya.
Para profesor juga diharapkan menjadi pemandu terciptanya atmosfir akademik yang kondusif. Mereka diharapkan mendorong kolega masing-masing untuk segera meraih jabatan guru besar, jabatan tertinggi bagi seorang fungsional dosen. [wir/ted]






