Gresik (beritajatim.com) – SD Negeri 372 di Pulau Bawean, Gresik, di tahun ajaran baru kali ini kurang beruntung. Pasalnya, sekolah tersebut hanya memiliki enam siswa. Minimnya siswa yang mendaftar karena lokasi sekolahnya terpencil.
Selama bertahun-tahun, memang jarang anak-anak mendaftar di sekolah tersebut. Bukan karena kualitasnya, tapi lokasi atau jarak dari pemukiman warga sekitar satu kilometer.
SD yang dulunya bernama SDN 2 Pekalongan, Tambak, Bawean ini baru menerima satu siswa dari Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2022 ini. Bahkan, dalam enam tahun terakhir, jumlah pendaftarnya pun sama. Hal itu terlihat di masing-masing tingkatan kelas, mulai dari kelas I hingga kelas VI ada 6 siswa. Setiap kelasnya berisi 1 siswa saja.
[berita-terkait number=”5″ tag=”dindik-gresik”]
Menanggapi minimnya siswa ini, Kepala UPT SDN 372 Gresik, Ahmad Ro’in menuturkan, PPDB tahun ini jumlah siswa yang mendaftar sama, yakni 1 siswa saja. Sebelumnya, terdapat siswa yang keluar dari sekolah, kemudian terdapat pula yang masuk satu siswa. Sehingga, jumlahnya tetap enam.
“Minimnya siswa yang daftar di SDN 372 ini lantaran sulitnya akses ke sekolah. Belum lagi, lokasinya yang berada di atas bukit yang sulit ditempuh dengan sepeda. Sehingga, para siswa biasanya jalan kaki untuk ke sekolah,” tuturnya, Kamis (14/07/2022).
Masih menurut Ahmad Ro’in, dengan kondisi seperti ini dirinya mempertimbangkan merger dengan sekolah lain karena lebih efektif.
Sementara secara terpisah, Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik Nur Maslichah mengatakan, untuk persoalan merger sebetulnya bisa cepat jika dilihat dari segi di atas kertas. Namun tidak semudah itu menggabungkan dua sekolah menjadi satu. “Kami perlu melihat beberapa aspek pendukung. Selain itu, juga perlu dilakukan kajian mendalam. Bagaimana jarak, akses serta masyarakatnya, dan sekolah lainnya bagaimana,” pungkasnya. [dny/kun]






