Lamongan (beritajatim.com) – Belasan bangunan liar yang ada di sekitar jalur rel kereta api (KA), tepatnya di depan kawasan PT. BMI (Bumi Menara Internusa), Kecamatan Deket, Lamongan digusur, Kamis (14/7/2022).
Beberapa dari penghuni bangunan semi permanen yang digusur ini pun mengungkapkan jeritan hatinya. Pasalnya, penggusuran ini dinilai telah merampas usaha yang mereka jalani selama bertahun-tahun tersebut.
Jaelan, salah satu penghuni bangunan semi permanen ini mengungkapkan bahwa penggusuran ini akan membuat kondisi usahanya semakin sulit. Pasalnya, ia tak tahu akan di mana membuka kembali usaha yang dijalaninya.
“Kondisinya akan semakin sulit. Pihak Pemerintah Lamongan seharusnya juga mampu memberikan solusi yang kongkrit,” ujar pengusaha warung kopi tersebut kepada wartawan, Kamis (14/7/2022).
Selain itu, pria asal Kecamatan Sarirejo Kabupaten Lamongan ini juga menanggapi bahwa lokasi baru yang telah disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan, yakni di Sentra PKL Andansari Lamongan, dinilai kurang menarik.

Pasalnya, tambah Jaelan, tempat Sentra PKL tersebut sangat sepi dan kurang diminati oleh para pengusaha PKL lainnya. Bahkan Jaelan berpandangan, usahanya tak bakal berkembang dan tak seramai seperti di tempatnya semula.
“Sentra PKL sepi mas. 4 tahun mangkrak. Kalau di sini (tempat semula) kan ramai, banyak pekerja BMI yang ke sini. Kita bekerja untuk mencari nafkah buat keluarga. Ngutuni duwit sewu rongewu (mencari keuntungan seribu duaribu),” terangnya.
Jaelan juga membenarkan, sebelumnya pihaknya telah menerima surat peringatan sebanyak 3 kali. Kini, ia hanya bisa pasrah dan menerima kenyataan ini. Meski begitu, ia menegaskan, pemerintah harus memberikan solusi yang lebih layak.
“Kalau ganti rugi memang tak ada. Kita terima penggusuran ini, kita sadar kita salah, tapi tolong lah berikan solusi yang layak agar kita bisa jualan seperti dulu. Saya di sini sudah 8 tahun,” tukasnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh, Aris, penghuni bangunan semi permanen yang menekuni usaha tambal ban di tempat tersebut. Ia mengaku hanya bisa pasrah atas penggusuran ini.
Sebagai bentuk ungkapan untuk meluapkan isi hatinya, Aris juga menuliskan sebuah tulisan di papan yang berada di tempat usahanya.
“Sek Bos, Enteni, Aku Tangi Tak Bongkar Dewe, (Sebentar bos, tunggu, kalau saya bangun tidur nanti tak bongkar sendiri),” tulisnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”penggusuran-lamongan”]
Tak hanya itu, pria yang menempati lokasi ini sejak tahun 2013 ini juga menuliskan kalimat lain di papan. “Ya Allah, aku pasrah hidupku kepadaMu,” tulisnya lagi.
Dengan adanya penggusuran ini, Aris berharap, ia nantinya akan bisa kembali membuka usaha yang ia lakoni. Sebab, ia adalah tulang punggung dalam keluarganya.
“Tentu kami berharap bisa buka usaha lagi. Tapi saya juga bingung, gimana caranya. Saya pasrah kepada Allah. Semoga mendapat ganti yang lebih baik,” tutupnya. [riq/but]







