Magetan (beritajatim.com) – Populasi sapi di Desa Janggan, Poncol, Magetan, Jawa Timur berkurang drastis. Dalam kurun waktu sebulan sapi diperkirakan hanya 500 ekor dadi sebelumnya mencapai 1.900 ekor lebih.
Mayoritas peternak menjual sapi mereka yang mayoritas terjangkit PMK. Peternak memilih menjual sapi mereka ke jagal dengan harga murah ketimbang menunggu penanganan sapi sakit dari Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan yang tidak sampai ke mereka.
Toha Maksum, peternak desa setempat membenarkan jika mayoritas peternak di Desa Janggan memilih menjual sapi karena mereka tak sanggup merawat sapi yang sakit. Mereka sudah melaporkan kondisi sapi mereka ke dinas terkait namun mereka mengaku tak ada penanganan maksimal. Sehingga, mereka memilih menjual sapi ke jagal atau siapapun yang mau membeli meski dengan harga murah.
[berita-terkait number=”5″ tag=”penyakit-PMK”]
Hal itu terus terjadi dan hampir semua peternak menjual sapinya. Toha memperkirakan jika sapi di desanya tinggal 500 ekor saja. Dia memastikan jika tak ada penanganan yang serius maka seluruh peternak bisa menjual sapi mereka dan populasi sapi di Janggan bisa habis dalam hitungan dua bulan.
“Entah karena mati, dipotong paksa, hingga dijual. Meski mayoritas memilih dijual meski tetap merugi. Populasi kini tinggal sekitar 500 ekor saja dari sebelumnya hampir 2.000 ekor,” terang Toha pada beritajatim.com, Sabtu (18/6/2022).
Dia mengaku sampai saat ini belum ada penanganan yang maksimal dari dinas terkait. Semua peternak hampir berupaya sendiri termasuk dirinya yang juga masih membeli obat sendiri. Bahkan, dia sempat kesulitan mengirim sapinya yang sehat untuk dijual ke Jakarta untuk jadi hewan kurban.
“Dinas kurang kooperatif dengan para peternak. Alasannya di Janggan mayoritas sudah kena PMK. Padahal belum semuanya. Toh, jika mereka tahu kalau sapi di Janggan terkena PMK, seharusnya mereka melakukan penanganan, tapi sampai kini tak jelas,” katanya.
Dia menanti rencana pemkab Magetan untuk melakukan vaksinasi. Karena di beberapa daerah di Jawa Timur sudah mendapatkan vaksin bagi ternak yang sehat agar tak terjangkit PMK.
“Kami menanti vaksin itu ya. Karena selama ini untuk obat saja kami belum benar-benar menemukan yang pas. Itu pun dinas juga tak mau memberitahukan ke kami obat mana yang baik untuk ternak. Mereka hanya menyarankan obat herbal yang hanya menjaga stamina ternak tapi kan tidak mengobati penyakit itu,” kata Toha.
Untuk diketahui, total kasus PMK di Magetan per 18 Juni 2022 pukul 19.00 WIB sudah terdapat 1.954 kasus yang dilaporkan ke Disnakkan, dengan total 988 ekor ternak sembuh, 14 ekor mati, dan 8 ekor dipotong paksa. (fiq/kun)






