Malang (beritajatim.com) – Islam datang untuk menyebarkan dasar-dasar dalam upaya saling mengenal dan saling mencintai di antara sesama manusia. Itulah sepenggal pidato internasional Ketua PBNU KH Ahmad Fahrur Rozi saat menjadi pembicara Dalam Dialog Trilateral di Qatar, Rabu (15/6/2022).
Gus Fahrur menjelaskan Alquran telah mengingatkan akan pentingnya persatuan umat manusia dengan berbagai perbedaan di antara mereka. Baik dari segi perbedaan keyakinan maupun perbedaan suku bangsa.
Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. (QS. Al-Baqarah 113)
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti (QS.al-Hujurat 13). Selain itu, Al-Qur’an juga mengingatkan kita semua atas pentingnya menyambut persaudaraan sesama manusia serta merawat silaturahmi,” ucap Gus Fahrur membuka pidatonya.
Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta,dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.(QS. An-Nisa 1).
“Di antara yang sangat membahagiakan saya adalah saya dapat bertemu dengan anda semua para ulama dari negara Qatar dan Afganistan. Saya merasa bersyukur dapat mengunjungi negara yang adidaya ini guna menyambung persaudaraan serta menguatkan hubungan kerjasama antara jam’iyyah Nahdlatul Ulama khususnya serta rakyat Indonesia secara umumnya dengan negara Qatar dan Afganistan,” tegas Gus Fahrur.
Gus Fahrur melanjutkan, bahwa kami perwakilan dari jam’iyyah Nahdlatul Ulama, organisasi islam yang secara resmi tercatat sebagai organisasi islam terbesar tingkat dunia. Organisasi NU memiliki 90 juta anggota resmi dari berbagai suku bangsa yang berbeda-beda dan menetap di berbagai daerah yang berbeda-beda. Organisasi NU didirikan pada tahun 1926 M oleh para ulama ahlu sunnah wal jama’ah yang memiliki sanad keilmuan yang bersambung dengan para ulama Makkah dan Madinah.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Gus-Fahrur”]
“Organisasi NU memiliki pengalaman yang sangat panjang dalam menyikapi realita yang terjadi pada umat islam di Indonesia. Dengan panjangnya perjuangan organisasi kami selama ini, kami menyimpulkan bahwa perbedaan bahasa, warna kulit, tradisi, etika, serta pemikiran di dunia ini tidak menjadi sebuah penghalang dalam mewujudkan persaudaraan, persatuan, serta saling tolong-menolong dalam upaya membangun hubungan yang baik diantara sesama umat Islam,” bebernya.
Organisasi NU ini, lanjut Gus Fahrur, selalu berjuang mewujudukan perdamaian dunia serta toleransi antar bangsa serta hubungan yang berkelanjutan dengan banyak organisasi keagamaan dari berbagai belahan dunia. Hal ini bertujuan menyatukan suara umat, menghentikan perpecahan dan pertikaian. Ini semua adalah upaya yang diserukan oleh agama kita yang penuh toleransi. Alquran mengingatkan kita semua.
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara” (QS. Ali Imran 103),” ujar Gus Fahrur.
Organisasi NU selalu mengikuti terkait isu perkembangan umat islam di berbagai belahan dunia tanpa terkecuali perkembangan bangsa Afganistan yang kini telah menghadapi perpindahan kekuasaan yang sangat menentukan masa depan bangsa serta kehidupan rakyat Afghanistan.
Organisasi NU terus mencari cara untuk menolong bangsa Afganistan serta berusaha membuka dialog yang komprehensif. Upaya bantuan ini adalah cerminan dari pentingnya saling tolong-menolong sebagai sesama umat islam. Nabi Muhammad mengingatkan kita dalam sebuah Hadis.
Rasulullah bersabda “Kalian melihat umat islam dalam upaya saling tolong-menolong, berkasih sayang serta persatuan mereka bagaikan sebuah jasad, ketika satu anggota tubuh merasakan kesakitan maka anggota tubuh yang lain akan merasakan sakit dan demam” (HR Muslim)
“Organisasi kami (NU) merasa terhormat dengan undangan organisasi Taliban. Kami tidak bermaksud untuk ikut campur terkait urusan dalam negeri Afganistan serta kami menghormati sudut pandang politik luar negeri organisasi Taliban serta kami menghormati sudut pandangan mereka dalam menyikapi permasalahan agama. Selain itu, kami juga meyakini wujudnya persatuan dan kesatuan bangsa Afganistan dengan adanya upaya tolong-menolong bersama para ulama yang mulia sebagai rujukan bangsa Afganistan,” kata Gus Fahrur.
Kami berdoa semoga Allah memudahkan bangsa Afganistan serta umat islam di berbagai belahan dunia terhadap apa yang Dia cintai. Sebagaimana kita tahu bahwa tujuan diciptakannya manusia berbangsa-bangsa serta berbeda-beda suku adalah agar saling mengenal. Al-Qur’an mengingatkan kita semua,” imbuhnya.
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (QS. Hujurat 13).
Gus Fahrur menambahkan, Organisasi NU mengajak organisasi Taliban untuk mengunjungi negara Indonesia. Organisasi kami (NU) sangat siap menyambut anda semua guna membangun dialog, berbagi kabar, serta membangun persaudaraan dan menguatkan hubungan diantara dua organisasi (NU dan Taliban). Agama islam mengajak kita untuk saling mengunjungi dengan beragam hikmah dibaliknya. Diantaranya adalah menghilangkan rasa canggung dan antipati, menumbuhkan rasa saling mencintai dan menghormati, menguatkan jalinan silaturahmi dengan adanya pertemuan dan perkumpulan, serta upaya saling mendengar pendapat serta sudut pandang satu sama lain.
Kita sangat membutuhkan momentum untuk membangun nilai-nilai islam yang harmonis. Dan perlu kami tegaskan bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian dan menyepi dari banyak orang. Sebagaimana Ibnu Khaldun mengatakan “Manusia secara alami adalah makhluk sosial”. Pada dasarnya, manusia tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya yang banyak.
“Maka, wajib adanya sebuah perkumpulan sosial diantara manusia dan upaya saling tolong-menolong diantara mereka,” Gus Fahrur mengakhiri. (yog/beq)






