Malang (beritajatim.com) – Ketua PBNU Bidang Keagamaan KH.Ahmad Fahrur Rozi, menjadi tamu khusus Kementerian Wakaf Qatar, Rabu (15/6/2022).
Dalam Dialog Trilateral dengan ulama 3 negara yakni Indonesia, Afghanistan dan Qatar tersebut, Gus Fahrur sapaan akrabnya menjelaskan, situasi politik dan keamanan di Afghanistan sejauh ini cukup aman.
“Mereka sangat menunggu uluran tangan dari pemerintah dan masyarakat Indonesia. Situasinya di Afganistan sudah aman terkendali. Saya mewakili PBNU menyampaikan selamat atas keberhasilan Taliban menyelesaikan konflik di negara mereka dan berharap mereka bisa bekerjasama dengan dunia internasional untuk membangun kembali Afganistan,” ungkap Gus Fahrur, Rabu (15/6/2022).
Dalam diskusi di Qatar tersebut, Gus Fahrur mengemukakan sejumlah topik bahasan utama. Salah satunya, pengejawantahan nilai-nilai Islam dalam pendidikan di Indonesia. Termasuk manifestasi atau pengamalan nilai-nilai wasathiyah di Institusi Pendidikan Islam di Indonesia, madrasah, universitas Islam, dan juga pondok pesantren NU.
“Tujuan pertemuan ini untuk memoderasi pandangan mengenai Islam Wasathiyah kepada Ulama Taliban. Dan juga mempromosikan peran dan partisipasi perempuan dalam proses pembangunan di Afghanistan,” tegas Gus Fahrur yang juga Pengasuh Ponpes An Nur Bululawang, Malang itu.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gus-fahrur”]
Gus Fahrur melanjutkan, pihaknya siap bekerjasama dengan rakyat Afganistan dan mengundang mereka untuk datang ke Indonesia, melihat pemerintahan Indonesia yang dapat menyatukan masyarakat untuk cinta negara dan agama secara bersamaan dengan damai. Dan memberikan kebebasan kepada perempuan untuk belajar dan bekerja dengan baik.

Masih kata Gus Fahrur, NU mempunyai ribuan pesantren dan berbagai lembaga pendidikan yang siap memberikan beasiswa kepada mahasiswa Afganistan yang ingin belajar di Indonesia.
“Kita ummat muslim di Indonesia mempunyai sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan dan mampu menjalin hubungan baik dengan semua golongan, sehingga dapat hidup berdampingan dengan damai antara pemeluk agama dan berbagai suku, bhineka tunggal Ika,” Gus Fahrur mengakhiri. (yog/ted)






