Malang (beritajatim.com) – Komunitas Kretek bersama LPM Canopy Universitas Brawijaya, Malang, melakukan diskusi bedah buku Nicotine War karya Wanda Hamilton, di UB Guest House, pada Selasa, (31/5/2022) kemarin. Nicotine War sejak dirilis pada 2011 lalu selalu menjadi perbincangan di kalangan akademisi maupun umum.
Hasil riset dan kajian Wanda Hamilton menyajikan fakta-fakta, bahwa di balik agenda global pengontrolan tembakau terdapat kepentingan besar dari bisnis perdagangan obat-obat yang dikenal sebagai Nicotine Replacement Therapy (NRT). Perang nikotin, sudah nyaris dimenangkan oleh korporasi-korporasi farmasi internasional dengan kesuksesannya melalui kampanye global antitembakau serta dukungan penuh dari WHO, lembaga kesehatan publik, pemerintahan dan NGO anti tembakau.
Menurut Wanda Hamilton siasat bermitra dengan pemerintah, otoritas kesehatan publik, dan membuat propaganda kesehatan melalui jaringan media, termasuk secara sistematis mengintervensi para dokter, adalah semata untuk mematikan industri tembakau. Tujuannya jelas, nikotin tidak lagi dikonsumsi melalui rokok, melainkan melalui racikan farmasi.
[berita-terkait number=”5″ tag=”UB”]
Buku Nicotine War sendiri berisikan informasi kontekstual atas berkembangnya isu antirokok secara global. Terdapat fakta-fakta ilmiah yang diungkap oleh Wanda Hamilton yakni, tentang seluk-beluk peperangan memperebutkan nikotin antara zat nikotin alami dalam tembakau yang diwakili oleh industri rokok versus senyawa mirip nikotin dan sarana pengantar nikotin yang diwakili oleh industri kesehatan.
“Isu antirokok, kini sudah banyak temui dan terus berkembang hingga salah satu agenda besarnya adalah Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). HTTS sendiri terus diperingati di Indonesia setiap tanggal 31 Mei dengan berbagai kegiatan dan tentu sebagai salah satu kampanye besar antirokok yang ingin memberantas tembakau di negara ini,” kata Koordinator Nasional Komunitas Kretek 2010-2016 Abhisam, Rabu, (1/6/2022).
Abhisam, mengatakan, Nicotine War berimbas pada sektor perekonomian. Kemandirian ekonomi yang selama ini ada dengan sokongan dari cukai tembakau, akan punah akibat bergeloranya Nicotine War. Industri kretek nasional adalah model industri berkarakter kuat. Modal, bahan baku, produksi, sampai konsumsi hampir seluruhnya bersandar di dalam negeri sendiri. Bilamana kemandirian ekonomi punah, maka di saat yang sama hajat hidup orang banyak yang bergantung pada sektor tersebut turut akan punah juga.
“Ada 5,98 juta orang yang terlibat langsung dalam industri kretek nasional, sementara sektor yang berhubungan secara tidak langsung digerakkan oleh 24,4 juta tenaga kerja. Jumlah keseluruhan tenaga kerja yang terserap industri ini mencapai lebih dari 30 juta orang,” paparnya.
Sementara Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) UB Imanina menilai, Industri Hasil Tembakau (IHT) merupakan satu-satunya industri nasional yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. IHT memiliki peran signifikan dari penyediaan input produksi, pengolahan, hingga proses distribusinya dan IHT memberikan kontribusi yang signifikan bagi penerimaan nasional.
Rencana simplifikasi cukai dan kenaikan tarif cukai akan berbanding lurus dengan peningkatan peredaran rokok ilegal. Pada tahun 2019, ketika tidak ada kenaikan tarif cukai, tidak terdapat simplifikasi. Hal ini pun berimbas menurunnya peredaran rokok ilegal yang cukup signifikan, diikuti dengan penurunan prevalensi perokok.
“Pola tersebut memberikan hipotetis bahwa kebijakan simplifikasi dan kenaikan tarif cukai hanya berdampak pada berkurangnya produksi rokok legal, namun tidak konsumsi secara agregat, mengingat masih adanya peredaran rokok ilegal,” imbuhnya.
Sementara Budayawan Irfan Afifi memandang Nicotine War dari kacamata budaya. Hal ini dapat membuat bangsa Indonesia, seperti tidak punya kemandirian dan kekuatan di dalam menentukan sikap. Bangsa ini dapat dianggap lebih suka menerapkan apa yang dilakukan negara lain ketimbang membuat keputusan sendiri tentang kebijakan rokok dan tembakau.
“Kita terus mengadopsi banyak hal mengenai hasil penelitian luar negeri dan dipaksa mengeksekusinya secara mentah, tidak memandang , nalar kebudayaan kita lah yang saat ini masih membuat kita masih bekerja membentengi rokok kretek sebagai produk kebudayaan Indonesia,” tandasnya.
Irfan mengungkapkan dengan membaca Nicotine War akan membuat seseorang mudah memahami, bahwa apa yang terjadi di Indonesia saat ini tidak jauh berbeda apa yang diceritakan Wanda Hamilton dalam bukunya. Cara-cara bagaimana antirokok menepikan industri rokok tidak ada beda.
Seiring perkembangan, agenda kepentingan pengendalian tembakau global memainkan agenda politiknya dalam upaya merebut pasar perokok di Indonesia. Hal tersebut dilakukan melalui regulasi cukai, menaikkan tarif cukai di atas 10 persen di tiap tahun, termasuk menerapkan simplifikasi cukai. Hal ini tentu berpotensi membuat pabrikan level kecil menengah gulung tikar lantaran tidak akan kuat menanggung beban cukai yang disamakan dengan perusahaan besar. (luc/kun)






