Jombang (beritajatim.com) – Bagi Anda yang menempuh perjalanan mudik melewati Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, tidak ada salahnya mencoba kuliner legendaris Kota Santri, Bakso Nuklir. Penganan ini sudah ada di Jombang sejak 1984 silam.
Warung Bakso Nuklir yang terletak di Desa Mojowarno, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang milik Tedjo Sumarto (65) mampu mempertahankan cita rasa. Kuahnya yang gurih dengan bahan daging sapi berkualitas yang tetap terjaga sejak 38 tahun silam.
Dengan harga yang terjangkau, hanya Rp12 ribu per mangkuk. Warung Bakso Nuklir milik Tedjo tak pernah sepi pembeli. Hari-hari biasa, ia mampu menjual 600-800 mangkuk dengan omzet Rp8-10 juta per hari. Sedangkan di akhir pekan, penjualannya mencapai 1.200 mangkuk dengan omzet Rp17-18 juta per hari.
Sabtu dan Minggu, Tedjo menyembelih satu ekor sapi setiap hari. Sedangkan hari biasa, satu ekor sapi untuk 2-3 hari. Ia bertugas mengontrol kualitas karena warung bakso tersebut saat ini dikelola sang buah hati. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang turut mengawasi kualitas bakso tanpa bahan pengawet tersebut.
Warung Bakso Nuklir yang terletak di selatan Rumah Sakit Kristen (RSK) Mojowarno ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Tedjo dibantu 15 karyawan dan harus mengeluarkan Rp30 juta per bulan untuk menggaji karyawannya.
Karena saat ini, ada lima cabang Bakso Nuklir. Yakni di Jalan Cukir-Mojowarno, Jalan KH Wahid Hasyim, Pasar Mojoagung, Ploso, dan Pare Kediri. Bakso, mi, dan pangsit goreng untuk cabang tersebut disuplai dari warung pusat, sementara warung cabang hanya membuat kuah sendiri setelah mendapat pelatihan dari Tedjo.
“Saya memulai bisnis bakso sejak tahun 1984 dengan cara berkeliling ke kampung-kampung menggunakan becak. Tahun 1984, sehari penghasilan saya Rp4.000 plus modal. Satu tahun kemudian, saya menggunakan gerobak dan mangkal di pinggir jalan depan RSK Mojowarno,” ungkapnya, Jumat (6/5/2022).
Namun tahun 1991, pemerintah melarangnya berjualan di pinggir jalan sehingga ia menyewa sebuah rumah di di sebelah selatan RSK Mojowarno. Sementara nama Bakso Nuklir sendiri, lanjut Tedjo, berawal pada tahun 1990-1991 yang saat itu terjadi perang antara Irak dengan Kuwait yang dipermasalahkan adalah nuklir.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kuliner”]
“Nah, karena saya ingin bakso saya dikenal banyak orang jadi bakso saya, saya namai Bakso Nuklir. Tempat ini, yang sebelumnya saya sewa akhirnya bisa terbeli dan sampai saat ini, rumah ini menjadi Warung Bakso Nuklir,” jelasnya.
Salah satu pemudik asal Mojokerto, Deniz Sudibyo (35) mengatakan, ia bersama keluarganya hendak mudik ke Kediri dan sengaja mampir untuk mencoba Bakso Nuklir. “Sering lewat sini dan tahu kalau pagi sudah buka, jadi mampir karena kebetulan berangkat belum sarapan. Rasanya masih sama seperti dulu,” ucapnya. [tin/but]








