Jember (beritajatim.com) – Para pemudik yang menuju wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur, diminta berhati-hati karena masih adanya ruas jalan yang belum selesai diperbaiki. Komisi C DPRD Jember meminta pemerintah daerah mengamankan jalan-jalan yang belum selesai diperbaiki tersebut.
“Ada beberapa proses perbaikan jalan pada angka 30-40 persen. Tapi ada beberapa juga yang pengerjaannya sampai sekarang di bawah 10 persen,” kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Jember Agus Khaeroni.
“Sekarang sudah mau lebaran. Kalau jalan tidak selesai, pengguna jalan semakin menumpuk. Seperti di beberapa ruas jalan, kanan dan kirinya sudah kadung dilubangi, pengerjaan belum selesai, bisa jadi biang keruwetan,” kata Agus.
Agus mencontohkan jalan menuju lokasi destinasi wisata pantai Watu Ulo. “Watu Ulo ini akan digratiskan tiket masuknya. Otomatis orang akan berjubel. Tapi kami pantau terus di lapangan, kanan dan kiri masih lubang-lubang. Mengisi agregat belum, dicor juga belum. Jangan-jangan nanti ada orang yang ‘split’ di situ. Kami takutnya di situ,” katanya.
Jalan Pahlawan di Kecamatan Ambulu yang juga sedang dicor juga perlu antisipasi. “Pengecoran kan butuh memperhatikan umur beton. Seharusnya ada pengalihan arus jadi satu arah, sehingga tidak macet. Tidak menumpuk. Karena ada pengecoran satu ruas jalan ada yang sepanjang 560 meter. Kita sempat uji coba, kalau arus lalu lintas buka tutup, makan waktu 10 menit. Ketika 10 menit, macetnya panjang,” kata Agus.
[berita-terkait number=”5″ tag=”dprd-jember”]
Ketua Komisi C Budi Wicaksono berpendapat serupa. “Kami sampaikan ke Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga, untuk jalan yang belum selesai dikerjakan dan ada material agar diberi rambu-rambu. Pertama, biar warga yang mudik tahu kalau ada perbaikan jalan. Takutnya orang yang tidak pernah lewat di situ jatuh,” katanya
Pemkab Jember kini tengah memperbaiki 30 titik ruas jalan dengan menggunakan anggaran tahun jamak. Kenaikan harga aspal beruntun membuat pembangunan jalan berjalan lebih lambat. “Alhamdulillah, perkembangan pembangunan jalan selama ini sudah cukup bagus progress-nya. Cuma ada satu dua yang masih agak lambat,” katanya, sebagaimana diberitakan, Selasa (26/4/2022).
“Tentunya saya minta dilakukan re-schedulling (penjadwalan ulang), untuk mengatur kecepatan kegiatan, speed-nya ditambah dengan waktu yang terbatas. Setelah dihitung, nanti akan ketahuan berapa kebutuhan material, alat, tenaga,” kata Hendy. [wir/suf]






