Ponorogo (beritajatim.com) – Pengunjung perpustakaan daerah (Perpusda) Ponorogo di bulan Ramadan ini, justru cenderung menurun. Jika pada hari normal atau sebelum bulan puasa, pengunjungnya bisa sampai 60 orang per hari. Kini selama Ramadan, perpustakaan yang berada di Jalan Ir. Juanda Kelurahan Tonatan Ponorogo tersebut hanya dikunjungi 30-40 orang per harinya.
“Secara umum memang ada sedikit perbedaan, tapi tidak terlalu banyak. Sehari di bulan puasa ini hanya sekitar 30-40 orang, sedangkan saat hari normal biasa bisa mencapai 60 orang yang mengunjungi perpusda,” kata Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo, Nur Vitasari, Jumat (22/4/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”perpustakaan”]
Menurut Vita, panggilan akrab Nur Vitasari, ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan pengunjung Perpusda Ponorogo di bulan puasa. Salah satunya yakni terkait dengan jam buka perpusda yang berkurang. Biasanya sebelum puasa, jam buka perpusda mulai pukul 07.00 hingga 15.15 WIB. Namun, di bulan puasa, perpusda buka mulai pukul 07.30 hingga 14.45 WIB. “Kemungkinan penurunan pengunjung karena jam buka perpusda berkurang di bulan Ramadan ini,” ungkap Vita.
Selain itu bisa juga terkait dengan sudah diberlakukannya pembelajaran tatap muka di sekolah maupun di kampus-kampus. Sebab, sebagian besar pengunjung perpusda adalah pelajar dan mahasiswa. Dengan sudah mulai aktif masuk sekolah, otomatis pada jam-jam tersebut mereka tidak bisa berkunjung. “Jadi saat-saat jam sekolah, perpusda ya sepi, paling pengunjungnya cuma beberapa dari masyarakat umum saja,” katanya.
Baru setelah jam pulang sekolah hingga menjelang perpusda tutup, pengunjung malah berdatangan. Vita menceritakan, saat sekolah menerapkan pembelajaran dalam jaringan (daring) dulu, justru pengunjung perpusda dari kalangan pelajar dan mahasiswa membludak.
Sebab, mereka memanfaatkan fasilitas internet di perpusda untuk melakukan pembelajaran daring. Selain itu, lamanya mereka tidak masuk sekolah, juga membuat mereka bosan dan healingnya ke perpusda. “Pembelajaran daring dulu, malah banyak yang ke perpusda. Ada yang memanfaatkan jaringan internet dan komputer untuk pembelajaran online,” pungkasnya. [end/suf]






