Ponorogo (beritajatim.com) – Truk pengangkut sampah, setiap hari hilir mudik ke tempat pembuangan akhir (TPA) Mrican di Kecamatan Jenangan Ponorogo. Tumpukan sampah pun setiap hari selalu ada.
Hal itulah yang membuat kumpulan sampah yang saat ini menjadi gunungan itu menyebabkan bau tak sedap. Tidak ingin bau tersebut kemana-mana, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bekerja sama dengan tim pemadam kebakaran (PMK) meminimalisir bau tersebut. Mereka menyemprotkan cairan khusus yang telah diformulasikan tim dari DLH Ponorogo.
“Kita upayakan untuk meminimalisir polusi bau. Formula khusus ini ya bisa dibilang solusi jangka menengahnya,” kata Kepala DLH Ponorogo, Seni, Senin (18/4/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-ponorogo”]
Formula khusus yang dimaksud Seni itu terdiri dari air sungai ditambah air lindi. Campuran keduanya sebanyak 5 ribu liter. Ditambah cairan formula ekolondi 10 liter. Namanya, formula ekolindi yang dikembangkan pertama oleh DLH Sidoharjo. “Baru diterapkan di TPA Mrican. Hasilnya tanpa bantuan penutup hidung-pun bau sampah tak tercium,” katanya.
Seni menyebut bahwa problem TPA Mrican sebenarnya mulai memuncak pada tahun 2018 lalu. Dimana saat itu, saluran irigasi buatan tak berfungsi. Padahal saluran irigasi buatan itu dibangun mengitari gunungan sampah. Tentu tujuannya supaya air dapat mengaliri persawahan.
“Saluran irigasi utamanya telah tertimbun gunungan sawah. Padahal saluran irigasi itu menyalurkan air dari wilayah hulu di Pulung ke lahan persawahan,” katanya.
Selain dinormalisasi, saluran irigasi buatan itu bakal ditutup box culvert. Tujuannya untuk memisahkan dengan saluran air lindi. Adapun dimensi pemasangan box culvert yang dibutuhkan panjang 293 meter dengan bentang lebar 2 meter dan tinggi 2,5 meter. “Itu nanti dianggarkan di PAK dengan dukungan dewan berkunjung ke lokasi bersama beberapa waktu lalu,” pungkasnya. (end/kun)






