Surabaya (beritajatim.com) – Ditengah isu saat ini sedang hot yakni masalah minyak goreng. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengaku khawatir.
Sejumlah sentimen negatif membayangi prospek kinerja emiten perkebunan kelapa sawit PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) di tengah tingginya harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Presiden Direktur Astra Agro Lestari Santosa mengatakan, prospek kinerja perusahaan pada tahun ini dibayangi oleh sejumlah ketidakpastian di pasar. Bahkan ketidakpastian itu lebih tinggi di tahun ini
Pada saat bersamaan, perseroan juga mempunyai kontrak dalam jangka panjang. Jika tidak hati-hati juga bisa terkena defailt. Menurut Santosa, hal itu merupakan dampak dari isu minyak goreng yang saat ini sedang panas.
“Ketidakpastian lain adalah harga pupuk yang ikut melambung. Belum lagi isu pembatasan, (meski) sebenarnya tidak ada yang resmi pembatasannya. Maka ada potensi yang tadinya kita tujukan untuk ekspor, akan di-save ke dalam negeri atau domestik,” ujar Santosa.
[berita-terkait number=”4″ tag=”Astra”]
Disisi lain PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat kinerja positif sepanjang 2021. Hal tersebut tercermin dari pendapatan bersih perseroan yang meningkat sebesar 29,3 persen dari Rp 18,8 triliun pada 2020 menjadi Rp 24,3 triliun pada 2021.
Direktur Astra Agro Lestari Mario Casimirus Surung Gultom mengatakan peningkatan pendapatan ini disebabkan oleh kenaikan harga jual rata-rata CPO sebesar 32,2 persen menjadi Rp 11.294 per kg dibandingkan dengan tahun 2020 yang sebesar Rp 8.545 per kg.
Harga jual rata-rata kernel juga mengalami peningkatan sebesar 67,4 persen menjadi Rp 7.305 persen pada 2021 dari Rp 4.365 per kg pada 2020,” kata Mario saat konferensi pers RUPST PT Astra Agro Lestari Tbk, Rabu (13/4/2022)
Seiring kenaikan pendapatan bersih, laba operasional perseroan juga mengalami peningkatan sebesar 86,2 persen menjadi Rp 3,43 triliun dibandingkan periode yang sama 2020 sebesar Rp 1,84 triliun. Sehingga, laba bersih perseroan ikut tumbuh 136,6 persen menjadi Rp 1,97 triliun dari Rp 833,1 miliar di 2020.
Tahun lalu, kinerja belanja modal atau capital expenditure (capex) perseroan juga meningkat 23 persen menjadi Rp 1,2 triliun dari Rp 999 miliar pada 2020.
“Mayoritas capex digunakan untuk replanting dan pemeliharaan tanaman belum menghasilkan. Selebihnya untuk perbaikan infrastruktur dan replacement mesin di pabrik,” tandas Mario. [rea]






